PDIP Berpeluang Cetak Hattrick di Pemilu 2024

PDIP Berpeluang Cetak Hattrick di Pemilu 2024 | Istimewa

Beritacas.com - Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia, Burhanuddin Muhtadi mengatakan, PDIP memiliki peluang besar untuk menjadi pemenang pemilu tiga kali berturut-turut.

Menurutnya, PDIP harus terus melanjutkan dua upaya yang sudah dilakukan sejak kalah di Pemilu 2004 lalu. 

Pertama, adalah meneruskan tren mencetak kepala daerah yang populer di masyarakat. Baginya, kehadiran sosok seperti Joko Widodo (Jokowi) menjadi kunci. Dia mencontohkan Partai Demokrat (PD) yang terus nyungsep suaranya karena gagal menemukan pengganti sosok SBY untuk dijual.

"PDI-P terus mencetak kader unggul di Pilkada," kata Burhanuddin, dalam diskusi, di Jakarta, Sabtu (3/8/2019).

Kedua, PDI-P harus terus melanjutkan upaya untuk merebut hati masyarakat muslim yang merupakan pemilih mayoritas di Indonesia. Baginya, PDIP sudah melakukannya sudah baik ketika mencitrakan diri sebagai partai yang mendukung islam toleran.

Bahkan, kata Burhanuddin, pemilih muslim di garis NU yang biasanya memilih PKB dan PPP, cenderung memilih PDIP di Pemilu 2019.

"Termasuk pemilih Muhammadiyah tertarik untuk memilih PDIP dibanding PAN," jelas Burhanuddin

Baginya, dua hal itu yang menjadi syarat utama bila PDIP ingin mencetak hattrick kemenangan di Pemilu 2024. Namun titik tekannya adalah mencari figur pengganti seperti Jokowi

Kendati demikian, Burhan mengakui ada juga sejumlah tantangan yang bisa menghambat kemenangan PDI-P di 2024. Salah satunya, faktor Presiden Jokowi yang sudah tak bisa maju lagi di Pilpres 2024. Padahal, kemenangan PDI-P di Pileg 2019 diyakini karena efek ekor jas dari Jokowi yang merupakan kader partai berlambang banteng itu.

"Sebagian yang memilih PDI-P karena ketokohan Jokowi," kata Burhan.

Ketua DPP PDIP, Andreas Hugo Pareira menilai, soal ketokohan itu bukan sebuah hal absolut. Sebab dalam Pemilu 2019, ada wilayah dimana mengidentikkan caleg atau partai pendukung dengan Jokowi justru memperoleh penolakan.

"Ketika di suatu wilayah itu tak suka si capres, maka si caleg takkan mau kampanyekan si capres. Ini menimbulkan pertanyaan, apakah benar figur capres itu akan paling menentukan?" kata Andreas.

Sumber: Beritasatu

G+

APA KOMENTAR ANDA?
BERITA MENARIK
loading...
BERITA TERBARU
    Loading...