Analisis Denny Siregar Tentang Keterlibatan ACT Pada Aksi 22 Mei 2019

Aksi Cepat Tanggap | Istimewa


Beritacas.com - Denny Siregar, salah satu netizen dan pendukung fanatik Jokowi sejak tahun 2014 mengaku resah dengan kehadiran Aksi Cepat Tanggap (ACT) pada aksi 22 Mei 2019 mendatang.

Menurutnya, ACT ini tidak jauh berbeda dengan White Helmets yang didirikan di Turki yang melakukan propogandra di Suriah beberapa waktu yang lalu.

Dikutip dari laman facebooknya, berikut anaisis lengkap Denny Siregar tentang keterlibatan ACT pada aksi 22 Mei 2019 mendatang.

Ketika Suriah sedang dilanda perang, banyak organisasi berbaju kemanusiaan dari seluruh negara datang kesana.

Tapi tidak semua datang melalui pemerintahan yang sah. Banyak juga yang datang untuk membantu para pemberontak dengan mengatas-namakan kemanusiaan.

Apa saja tugas mereka disana ? Ya, mengkoordinir bantuan pangan dan obat-obatan seperti biasanya, termasuk mengirimkan dokter dan merawat yang terluka. Tapi itu kedok depannya. Yang terjadi dibelakang ternyata berbeda..

Sebagai contoh White Helmets, organisasi berbaju kemanusiaan yang didirikan di Istanbul Turki dan dikomandani mantan intelijen Inggris.

"Helm putih" ini sejatinya adalah bagian dari terorisme. Tugas mereka adalah merekayasa kejadian, seolah-olah membantu korban dan - ini yang berbahaya - mereka melakukan propaganda dengan film seolah-olah pemerintah Bashar Assad adalah Presiden yang kejam.

Salah satu karya besar mereka adalah foto dan video "anak kecil di kursi oranye", yang membuat kemarahan dunia kepada Rusia karena WH melakukan propaganda bahwa anak itu korban bom Rusia. Padahal itu kejadian yang direkayasa White Helmet sendiri.

Dari Indonesia pun tidak kurang2 organisasi berbaju kemanusiaan seperti White Helmets. Ada MerC, ada Aksi Cepat Tanggap ACT, ada Indonesian Humaniterian Relief atau IHR. IHR ini adalah badan berbaju kemanusiaan bentukan Bachtiar Nasir, salah satu pentolan HTI yang sekarang kabur ke Saudi.

Bachtiar Nasir dijadikan tersangka atas kasus pencucian uang dengan mengambil dana dr masyarakat melalui donasi, kemudian mengirimkan bantuan ke salah satu kelompok teroris, Jaysh Al-Islam di Aleppo, Suriah.

Nah, mendekati aksi 22 Mei kelompok pendukung Prabowo menolak hasil Pilpres 2019, salah satu badan yang sering terlibat dalam urusan bantuan konflik internasional seperti ACT, tiba-tiba sudah siap dengan berbagai bantuan untuk para demonstran.

Pertanyaannya, ada apa ini ?

Seolah-olah ACT mengetahui akan ada masalah kerusuhan disana. Mereka sudah siap dengan segala perangkat dengan bahasa seram "mengantisipasi risiko krisis kemanusiaan".

Krisis kemanusiaan apanya ? Jangan-jangan ACT mau bikin narasi krisis sendiri seperti White Helmets yang berbeda dengan narasi pemerintah.

Kalau ACT ingin berbuat untuk kemanusiaan, seharusnya fokus pada korban bencana alam, bukannya malah terjun ke dunia politik, seperti pada mobilisasi massa menolak hasil Pilpres 2019. Kehadiran ACT disana malah menguatkan sinyal bahwa akan terjadi kerusuhan dan ACT akan muncul sebagai "dewa penolong".

Biarkan urusan Pilpres menjadi urusan Polisi dan TNI yang bertanggung-jawab terhadap situasi disana. Dua institusi pemerintah itu juga punya perangkat yang dimiliki oleh ACT. Tidak perlu ada badan berbaju kemanusiaan yang ikt campur masalah politik di Indonesia, seperti ACT, IHR, MerC apalagi White Helmets...

Sudah selayaknya ACT diusir dari lokasi demo, karena keberadaannya tidak diperlukan. Jangan politisasi situasi dengan baju kemanusiaan seperti yang sudah pernah terjadi di Suriah. Kita belajar banyak, bahwa serigala bisa berbaju apa saja, bukan hanya berbaju domba. Tergantung siapa yang akan dimangsa..

Saya hanya mengingatkan, bahwa apa yang terjadi di Suriah, bisa dijadikan pembelajaran berharga untuk Indonesia. Sebelum semuanya hancur berantakan..

Seruput kopinya..

Denny Siregar

G+

APA KOMENTAR ANDA?
BERITA MENARIK
loading...
BERITA TERBARU
    Loading...