Jokowi dan Politik "Game of Thrones"




Beritacas.com - Tepuk tangan dan gelak tawa membahana di Nusa Dua Hall Convention Center, Bali kala Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyampaikan sambutan dalam acara Plenary Session Annual Meeting IMF-World Bank pada Jumat (12/10) lalu. Presiden Jokowi mencuri perhatian dengan pidatonya yang menyampaikan bahwa kondisi ekonomi dunia (yang diakibatkan oleh perang dagang AS dan China) seperti kondisi yang terjadi dalam film Game of Thrones.

Game of Thrones merupakan film serial yang menceritakan tentang sebuah benua fiktif yang disebut dengan Westeros yang di dalamnya terdapat banyak "House" (klan) yang memiliki pengaruh siginifkan. House Arryn, House Greyjoy, House Lannister, House Stark hingga House Tagaryen adalah yang terbesar di antaranya. Dalam serial ini diceritakan bahwa antar-House sering berperang untuk merebut tahta tertinggi di Westeros yakni The Iron Thrones yang terdapat di ibu kota Westeros-King's Landing.

Jokowi menganalogikan bahwa Westeros ialah dunia. House adalah negara-negara maju yang memiliki kuasa dan pengaruh yang kuat. Serta, The Iron Thrones dianalogikan sebagai pasar global-tujuan utama. Untuk mencapai The Iron Thrones, tak jarang para house saling berkhianat dan menjatuhkan. Kemarin jadi lawan, sekarang jadi kawan. Kemarin saling puji, kini saling maki. Tiada yang abadi, begitulah politik bagi mereka.

Kondisi itulah yang terjadi pada negara-negara maju saat ini. Jokowi berpendapat bahwa aliansi antarnegara-negara ekonomi maju memang tengah mengalami keretakan. Lemahnya kerja sama dan koordinasi telah menyebabkan terjadinya banyak masalah. Seperti peningkatan drastis harga minyak mentah dan juga kekacauan di pasar mata uang yang dialami negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.

Kita sama-sama tahu, kondisi rupiah makin melemah di awal pekan bulan ini. Rupiah yang sudah melemah 12,01 persen sepanjang tahun berjalan 2018 disebabkan salah satunya oleh perang dagang ini.

Belum Surut

Apa yang terjadi pada China dan AS tampak belum surut dalam waktu dekat. Ketegangan ini terus terjadi tanpa ada itikad baik untuk meredam egoisme masing-masing negara. Kita sama-sama tahu, AS dan China terus melakukan pengetatan impor. Pengetatan impor dimulai dengan pengenaan tarif tinggi oleh AS pada produk China senilai 34 miliar dolar AS di pertengahan tahun ini. Tak mau tinggal diam, China pun membalas dengan melakukan blokade pada kapal-kapal AS yang membawa ribuan ton produk AS. Bukan hanya itu, China pun melakukan pengetatan impor pada sektor pertambangan, khususnya pada komoditi batubara. Alhasil, negara-negara berkembang penghasil batubara (seperti Indonesia) terimbas negatif dalam hal ini.

AS di bawah kepemimpinan Donald Trump tampak semakin garang pada China. Belum lama ini, AS mengancam pemerintahan China dengan berencana menaikkan tarif tinggi pada produk impor China jika tidak mencabut pengetatan impor pada produk AS. Tidak tanggung-tanggung, AS berencana menaikkan tarif semua barang impor dari China senilai 500 miliar dolar AS. Dengan nada sombong, Trump siap meningkatkan intensitas perang dagang melawan China yang diklaim telah menggerogoti pasar keuangan domestik AS.

Bila kita cermati lebih mendalam, pola perang dagang ini sama persis seperti yang terjadi pada krisis ekonomi 2008 silam --hanya beda penyebab). Krisis 2008 terjadi karena masyarakat AS menumpuk utang di mana-mana yang menyebabkan mereka gagal bayar pada lembaga keuangan. Akibatnya, lembaga keuangan juga tak bisa bertahan lama dan akhirnya pailit. Kondisi ini jelas membuat daya beli masyarakat AS turun. Dan, akibatnya impor luar negeri macet. Negara-negara berkembang yang mengandalkan ekspor menjadi kian malang. Dan, terjadilah over-produksi. Negara-negara di dunia mengalami resesi.

Pengalaman resesi ini juga mirip seperti yang terjadi di Game of Thrones. House Lannister yang menjadi pemilik The Iron Thrones pada akhirnya juga mengalami defisit finansial akibat perang yang terus terjadi dengan sesama House. House Arryn, Stark, dan Targaryen menjadi lawan berat bagi Lannister. Perang dengan ketiga House itu adalah yang paling menguras energi Lannister. Mau tak mau Lannister pun pada akhirnya menjalin kerja sama dengan House lain untuk menutupi defisit tersebut.

AS tak selamanya bisa menjadi Lannister yang buas. AS harus bisa meredam ambisi politisnya. AS bukanlah negara tanpa cacat. Setiap negara mempunyai kelemahan. Ia juga pasti membutuhkan bantuan negara lain baik dalam prospek ekonomi maupun politik. Namun, yang jadi tanya, apakah ada yang mau membantu kalau mereka memperlakukan negara lain seperti sapi perahan tanpa ada feedback yang saling menguntungkan di kedua belah pihak?

White Walker

AS dan seluruh dunia harus introspeksi diri. Tantangan yang dihadapi saat ini bukan lagi pada ketegangan-ketegangan politik yang tak berujung. Tapi, lebih ke masalah-masalah sosial ataupun lingkungan hidup yang kini tengah dilanda krisis. Dalam serial Game of Thrones ancaman ini disebut White Walker (Jokowi menyebutnya "evil walker"). Yakni, sebuah zombie yang bisa menghancurkan dunia. Zombie itu tak lain ialah bencana alam, perang sipil, pencemaran lingkungan, dan kondisi iklim global yang semakin tak terkendali.

Mau dibawa ke mana nanti anak-cucu kita bila negara-negara di dunia, para House, saling bunuh-membunuh (baik dalam fisik atau ekonomi)? Apakah homo homini lupus terus menjadi doktrin yang seakan tiada ujungnya? Apa jadinya dunia ini bila negara-negara terus memburu The Iron Thrones tanpa mengetahui ada negara-negara yang terimbas karenanya? Saatnya memberhentikan itu semua. Ada harga mahal yang dibayar saat negara-negara haus akan The Iron Thrones. Nafsu kekuasaan yang membabi-buta jelas berujung pada sebuah kehancuran.

Pidato Jokowi tentang politik Game of Thrones tersebut menyiratkan pada kita bahwa konflik itu suatu keniscayaan. Itu hukum keseimbangan. Tapi, ia menjadi masalah kalau berkepanjangan. Maka, menekan egoisme masing-masing negara perlu dilakukan. Para House harus duduk bersama untuk mencari solusi. Solusi atas permasalahan yang paling utama, bukan soal The Iron Thrones tapi soal White Walker yang buas. Soal bencana alam, iklim global, dan isu kemanusiaan.

Fajar Anugrah Tumanggor peneliti muda Ilmu Politik FISIP USU - detikcom

G+

APA KOMENTAR ANDA?
BERITA MENARIK
loading...
BERITA TERBARU
    Loading...