Ketua Umum PSSI, Edy Rahmayadi Didesak Mundur




Beritacas.com - Sejak Edy Rahmayadi resmi menjadi ketua umum PSSI, berdasarkan data Goal.com, setidaknya terdapat 12 suporter tewas dibunuh. Lima di antaranya meregang nyawa pada tahun 2018. Kasus terbaru adalah meninggalnya Haringga Sirla akibat dikeroyok di Stadion Gelora Bandung Lautan Api, jelang pertandingan Persib kontra Persija.

Akmal Marhali, koordinator Save Our Soccer (SOS) berharap PSSI bisa melancarkan tindakan tegas untuk menghentikan tindak kekerasan di antara suporter sepakbola. Tapi Akmal bingung karena Edy juga melakukan hal serupa, misalnya menampar salah satu suporter dalam pertandingan PSMS Medan melawan Persela Lamongan.

"Ya sebaiknya [Edy Rahmayadi] melepaskan jabatan [ketua PSSI]," tegas Akmal pada reporter Tirto, Senin (24/9/2018).

Komisi Disiplin (Komdis) yang berada dalam naungan federasi, dirasa tak mampu bertindak tegas. Hingga kini Edy tak pernah mendapatkan sanksi.

"Kita tunggu saja apa Komdis bisa tegas terhadap aturan yang dibuat. Selama tidak ada teladan dari pihak berwenang apa pemangku jabatan di PSSI, jangan berharap akar rumput akan mengubah cara berpikirnya," tuturnya.

Akmal menegaskan, menjadi ketua umum PSSI bukanlah kerjaan sambilan. Menurutnya sudah sepatutnya jabatan tersebut diisi orang yang bisa fokus bekerja benahi masalah sepak bola Indonesia.

“Akhirnya kan pusing sendiri, stres, emosional, lalu gampar orang kan," ujarnya menyindir Edy yang merangkap jabatan sebagai gubernur Sumut.

Ia berharap dengan mundurnya Edy dari PSSI, akan muncul orang lain yang bisa memberikan solusi untuk masalah sepak bola Indonesia, terlebih soal kematian suporter. Pada saat suporter PSMS Medan mengeroyok Banu Rusman, Edy berjanji untuk menyelesaikan kasus tersebut. Sayangnya hingga sekarang tidak ada kejelasan.

"Kenapa ini [kekerasan suporter] semua terjadi? Ya karena pembiaran, tidak ada langkah-langkah konkret untuk ini," ungkapnya.

PSMS sendiri hanya mendapat sanksi berupa empat laga tanpa penonton dan denda Rp30 juta bagi klub dari Komisi Disiplin PSSI. Untuk para pelaku pengeroyokan, polisi belum pernah merilis nama-namanya.

"Saya tidak yakin Pak Edy Rahmayadi bisa fokus menyelesaikan kasus ini," kata Akmal.

Sekretaris Jenderal Jakmania Diky Soemarno mempunyai pandangan yang sama dengan Akmal. Sebagai orang yang menyukai sepakbola dan Persija, ia merasa menjadi pengurus olahraga tidaklah mudah.

"Mengurus the Jak saja nggak gampang. Butuh waktu dan energi besar untuk itu. Ini baru skala the Jak, belum skala sepakbola seluruh Indonesia," tegasnya kepada reporter Tirto.

Merujuk pada data Litbang SOS, sejak Januari 1995 hingga April 2018, sudah 69 suporter sepakbola meninggal dunia. Pada tahun 2017 sebanyak 14 suporter tewas.

"PSSI sekarang action-nya apa? Diam aja," kata Diky. "Sistemnya dulu dirapihin, baru nanti enak semuanya."

Kartu Kuning Dari Kemenpora dan BOPI

Terkait tewasnya Haringga Sirla, Menpora Imam Nahrawi melayangkan peringatan keras kepada PSSI. Dia jengah dengan pembunuhan suporter yang terus terulang.

"Ini warning keras bagi PSSI dan operator. Lakukan sesuatu, agar tidak terulang kembali, jangan ditukar nyawa dengan bola," kata Imam kepada Antara.

Imam memerintahkan pada PSSI usut tuntas pelaku dan pangkal masalah pembunuhan suporter. Dia juga meminta agar PSSI melakukan tindakan konkrit untuk memberangus perselisihan antar suporter sepakbola.

"Ini warning terakhir dari pemerintah. Lakukan sesuatu,” tegasnya.

Politikus PKB tersebut menuturkan, sejauh ini sudah memanggil beberapa pihak untuk menggelar rapat evaluasi. Dia akan mencari tahu pihak mana yang teledor.

"Sekarang sedang dilakukan evaluasi di Jakarta. Semua sedang kami panggil. Kita akan lihat nanti, bagaimana pembiaran yang terjadi. Kalau memang ada pembiaran tentu kita akan evaluasi," tuturnya.

Infografik CI Penganiayaan Antar Suporter

Sempritan untuk PSSI juga muncul dari Badan Olahraga Profesional Indonesia (BOPI). Richard Sam Bera, ketua umum BOPI meminta PT Liga Indonesia Baru (LIB) dan PSSI membekukan seluruh kompetisi nasional, baik Liga 1 ataupun Liga 2.

"Kami memberikan waktu selama sepekan kepada PSSI sebagai federasi dan PT LIB untuk menyelesaikan masalah ini dan memberikan sanksi konkret, tegas, dan efektif terkait tewasnya suporter," kata Richard dalam jumpa pers di Jakarta, kemarin.

Richard mendesak PSSI dan PT LIB segera menginisiasi pertemuan antar klub sepak bola. Tujuannya untuk menghasilkan keputusan yang menjamin, tak ada lagi suporter yang meninggal dunia karena rivalitas yang tidak sehat.

"Kami adalah lembaga yang dapat memberikan rekomendasi sehingga sebuah kompetisi olahraga dapat berjalan. Kami mengimbau dengan keras, supaya saat investigasi sedang berlangsung, tidak ada kegiatan," kata mantan atlet renang itu.

Terkait tindak kekerasan yang terjadi antar suporter sepakbola, Richard menilai, akan bisa diminimalisir oleh seluruh klub liga nasional. Dia juga berharap para suporter sepakbola menghentikan permusuhan untuk membangun kompetisi yang bermartabat.

Memantau Dari Jauh

Kepala Hubungan Digital dan Promosi Media PSSI Gatot Widakdo menampik pendapat terkait Edy yang tidak mampu mencari solusi masalah kematian suporter bola. Menurutnya meski berada di Medan, Edy memantau penuh perkembangan Liga 1.

Terlebih menurut Gatot, dengan adanya sistem pengambilan keputusan di komisi exco PSSI yang dilakukan secara kolektif, ketidakhadiran Edy tentu tetap bisa menghasilkan keputusan. Asalkan koordinasi tetap berjalan

"Yakin sekali. Bisa. Di PSSI itu keputusan diambil secara utuh, kolektif. Makanya semua saling berkoordinasi. Nggak mungkin keputusan diambil tanpa koordinasi," kata Gatot.

Sedangkan Edy memberikan keterangan melalui siaran langsung di Kompas Petang yang disiarkan Kompas TV, pada Senin (24/9/2018). Menurut Edy, kematian Haringga Sirla bukan kesalahan tim Persib.

“Saya tak lihat atlet yang salah. Yang salah adalah suporter,” kata Edy.

Lalu Aiman Witjaksono sebagai pembawa acara, menanyakan langkah apa yang akan dieksekusi PSSI terkait kasus pembunuhan Haringga Sirla. Tapi Edy justru menyindir Aiman yang menyebut pengeroyokan Haringga Sirla sampai meninggal dunia adalah tindakan biadab.

“Bukan biadab yah. Rakyat Indonesia itu beradab,” sambarnya. [tirto.id]


G+

APA KOMENTAR ANDA?
BERITA MENARIK
loading...
BERITA TERBARU
    Loading...