Operasi Simpatik 2017 Mulai Tanggal 1 Maret, Jangan Mau Ditilang, Ini Alasannya

Ilustrasi Operasi Simpatik oleh Kepolisian RI | Istimewa

Beritacas.com - Operasi Simpatik 2017 secara resmi akan digelar serentak pada hari Rabu, 1 Maret 2017 di seluruh Indonesia.  Operasi ini akan berlangsung selama 21 hari yang artinya akan berakhir pada tanggal 21 Maret 2017 mendatang.

Para pengendara kendaraan bermotor diharapkan untuk melengkapi surat-surat kendaraan dan membawa SIM, namun jangan kuatir, operasi ini tidak ada penilangan seperti operasi simpatik sebelumnya.

Kepala Bagian Operasional Korps Lalu Lintas Polri, Kombes Benjamin mengatakan, Operasi Simpatik 2017 berbeda dengan Operasi Simpatik 2016.

Pada tahun 2016, masih ada penindakan terhadap pelanggar dengan porsi 80 teguran dan 20 persen penindakan.

Nah, pada tahun ini, dibuat berbeda karena tujuan dari Operasi Simpatik agar masyarakat lebih simpati kepada polisi.

Kata Benjamin sebagaimana dikutip dari Otomania.com, Senin (27/2/2017), jika sepanjang 21 hari itu ada pelanggar, polisi boleh menjatuhkan tilang, tapi jangan dalam Operasi Simpatik. Pasalnya, konsep Operasi Simpatik saat ini bukan lagi razia.

Dalam operasi ini, proporsional untuk penegakan secara persuasif memang lebih banyak dibanding preventif (penegakan hukum).

pengamat kepolisian, Neta S Pane mengatakan, cara-cara simpatik akan lebih menarik simpati masyarakat pada Polri ketimbang mengedepankan tindakan hukum.

Jangan Asal Mau Ditilang

Jika masyarakat sudah simpati, akan sangat mudah bagi Polri untuk menggugah kesadaran masyarakat.

Apakah Anda pernah ditilang, tapi tak merasa melanggar peraturan lalu lintas?

Jika ya, mungkin dalam proses tilang itu, ada yang tidak dipahami oleh petugas lalu lintas atau sebaliknya malah diri Anda sendiri belum paham.

Perlu diketahui, pengendara kendaraan bermotor tak boleh asal ditilang polisi lalu lintas sebab ada pula aturannya.

Pada pengendara sepeda motor, kesalahan-kesalahan yang akan dikenai tilang di antaranya kelengkapan surat-surat kendaraan, pengendara melawan arus, pelat nomor tidak sesuai aslinya, pengendara atau peenumpang tidak mengenakan helm, motor harus lajur kiri (apabila ada lajur kanalisasi), harus nyala lampu besar di siang hari, melanggar lampu merah, melanggar marka jalan, dan naik motor lebih dari dua orang.

Sementara, untuk pengendara mobil ada enam sasaran, yakni pelat nomor tidak sesuai aslinya, simbul pada pelat nomor, pakai rotator atau sirene pada mobil pribadi, tidak pakai sabuk pengaman, melanggar lampu merah, serta melanggar marka jalan.

G+

APA KOMENTAR ANDA?
BERITA MENARIK
loading...
BERITA TERBARU
    Loading...