Klarisfikasi Isu Miring Adat Pernikahan Suku Nias

Ilustrasi Isu Miring Adat Pernikahan Suku Nias | Istimewa

Beritacas.com - Akhir-akhir ini publik Indonesia dihebohkan dengan dugaan adanya "Ciuman Massal” di Kabupaten Nias Selatan. Namun hal tersebut telah dibantah langsung oleh Bupati Nias Selatan, Dr. Hilarius Duha, SH., MH.

Tetapi ada satu kejadian yang tidak kalah heboh, yaitu komentar seorang netizen, Maskuddin Harahap yang menuding bahwa jika di malam pertama, pengantin perempuam akan tidur dengan bapak atau ayah si pengantin laki-laki. Atau bahasa kasarnya, “Bapak pengantin laki-lakilah yang perawanin pengantin perempuan”.



Buntut dari komentar Maskuddin tersebut, beberapa organisasi masyarakat, LBH, warga Nias melaporkan Maskuddin ke penegak hukum untuk mempertanggung jawabkan komentarnya.

Lalu terkejutkah masyarakat Nias atas tudingan Maskuddin tersebut?

Tidak bagi mereka yang pernah mendengarnya, tetapi bagi yang baru mendengarnya akan terkejut.

Di kota-kota besar di Indonesia, seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, Medan, Batam, dll, pertanyaan “Apakah yang tidur di malam pertama dengan pengantin perempuan adalah ayah pengantin laki-laki?” sudah sering dilontarkan kepada masyarakat suku Nias yang tinggal diperantauan.

Benarkah pernyataan tersebut bagian dari Adat Pernikahan Suku Nias?

Wanita di adat Nias sangatlah bernilai tinggi. Hal ini dibuktikan dengan nilai jujuran atau mahar bagi seorang perempuan Nias yang sangat mahal. Bahkan hal ini menjadi salah satu daerah dimana mahar atau jujurannya paling mahal di Indonesia.

Masyarakat Nias adalah masyarakat yang mempunyai moral, tata krama dan terikat di adat istiadat.

Dalam adat pernikahan suku Nias, ada beberapa tahapan yang harus dilalui bagi kedua pasangan. Tahapan ini pada umumnya dimulai dari Famatua (Tunangan), Fangoro (Kunjungan Kerumah Mertua), Fanema Bola (Penentuan Jujuran), Famekola (Pembayaran Uang Mahar), Fame'e (Nasehat Untuk Calon Mempelai), Sakramen Pernikahan (Khusus Kristiani), hingga pada Pesta Pernikahan (Falowa).

Bahkan di beberapa desa, mempelai wanita tidak diperkenankan tinggal apalagi tidur di rumah mempelai laki-laki sebelum adanya acara pemberkatan nikah dari gereja.

Ini tentunya menjadi dasar yang kuat, menunjukan bahwa masyarakat Nias juga masih mengenal aturan dan norma yang dijunjung tinggi. Kemudian masyarakat Nias juga mengenal dan memahami betul nilai-nilai yang terkandung dalam setiap ajaran agama.

Jadi, tidak benar pernyataan seperti yang ditudingkan oleh Maskuddin Harahap tentang adat pernikahan suku Nias.

Sebarkan biar isu miring tentang Adat Pernikahan Suku Nias dapat diklarifikasi melalui tulisan ini (Jastis Bago).

G+

APA KOMENTAR ANDA?
BERITA MENARIK
loading...
BERITA TERBARU
    Loading...