Raden Brotoseno, Langkah Penting Kepolisian Berantas Korupsi

Raden Brotoseno | Istimewa

Beritacas.com - Penangkapan Ajun Komisaris Besar Brotoseno lewat operasi tangkap tangan kepolisian atas tuduhan menerima suap sebesar Rp1,9 miliar dinilai lembaga anti-korupsi dan Komisi Kepolisian Nasional sebagai suatu 'langkah penting' dalam upaya memberantas korupsi dan pungutan liar di tubuh kepolisian.

Peneliti Indonesia Corruption Watch Tama S Langkun melihat bahwa langkah kepolisian dalam menangkap Brotoseno, yang menjabat sebagai kepala unit di Direktorat Tindak Pidana Korupsi Mabes Polri, sebagai upaya "mengikuti instruksi atau kemauan presiden terkait pungli".

"Pembersihan terkait pungli, upaya-upaya pemerasan atau suap misalnya, sekarang tidak hanya digalakkan di level kementerian tapi juga di institusi seperti kepolisian. Menurut saya, ini menjadi penting bagi agenda perubahan mindset penegak hukum di era Jokowi," kata Tama.

AKBP Brotoseno yang juga pernah menjadi penyidik di Komisi Pemberantasan Korupsi ditangkap karena diduga menerima uang Rp1,9 miliar terkait penanganan perkara dugaan korupsi cetak sawah.

Brotoseno ditangkap oleh tim Saber Pungli dibantu tim pengamanan internal pada 11 November dan kasus ini baru diungkap ke publik pada Jumat (18/11) lalu. Brotoseno kini berada dalam tahanan Mabes Polri.

Polisi juga menangkap Kompol D, seorang perwira polisi yang merupakan penyidik di Direktorat Tindak Pidana Umum Mabes Polri, dan pengacara HR yang diduga memberikan uang suap.

Lebih lanjut Tama mengatakan, "Kita juga melihat bahwa pihak atau oknum yang ditangkap juga berada di Direktorat Tindak Pidana Korupsi, yang seharusnya dia punya concern dalam pemberantasan korupsi. Kita melihat ada upaya yang serius, ternyata polisi juga bisa melakukan operasi tangkap tangan."

Menurut Tama, langkah ini bisa menunjukkan kepada masyarakat bahwa polisi "berani memproses pejabatnya sendiri".

Komisioner Komisi Kepolisian Nasional Benedictus Bambang Nurhadi juga menilai bahwa langkah kepolisian melakukan operasi tangkap tangan ini sebagai tanda keseriusan Kapolri dalam "pembersihan" internal.
Diikuti jajaran

Namun seberapa yakin sebenarnya Kompolnas melihat upaya polisi memberantas korupsi nantinya bisa mengarah pada oknum polisi dengan rekening gendut atau kekayaan yang tidak wajar?

Benedictus mengatakan, "Sekarang kita tidak melihat ke belakang, yang jelas kapolri sudah menunjukkan programnya, kita tidak membanding-bandingkan dengan yang sebelumnya. Jadi ya pembersihan ini boleh diikuti oleh polda-polda lainnya. Bahwa pimpinannya sudah menjalankan prinsip, konsep-konsep yang mereka gariskan, ya tentunya dapat diikuti oleh semua jajarannya," kata Benedictus.
Benedictus juga berharap bahwa kasus ini nantinya tak hanya berhenti pada sidang kode etik saja yang berlangsung secara internal.

"Kalau ada pidananya ya tetap harus dijalankan, kalau terbukti ada unsur pidananya ya tetap harus dilimpahkan ke pengadilan," tambahnya.

Sementara itu, kepada wartawan, Kapolri Tito Karnavian sudah mengatakan bahwa dalam penanganan kasus AKBP Brotoseno ini, polisi akan mengusut baik unsur pidana maupun kode etiknya, yang nantinya dapat berdampak pada pemecatan Brotoseno dari kepolisian jika terbukti bersalah.

G+

APA KOMENTAR ANDA?
BERITA MENARIK
loading...
BERITA TERBARU
    Loading...