Ahok Minta Maaf Menunjukkan Dia Adalah Seorang Negarawan

Foto: Istimewa


Beritacas.com - “Saya sampaikan kepada umat Islam, ataupun orang yang merasa tersinggung, saya sampaikan mohon maaf. Tidak ada maksud saya melecehkan agama Islam atau Al Quran.”

“Saya minta maaf untuk kegaduhan ini. Saya pikir komentar ini jangan diteruskan lagi. Ini tentu mengganggu keharmonisan kehidupan berbangsa dan bernegara,” ucap Ahok pagi ini di Balai Kota.

Sekali lagi saya salut dengan Ahok. Luar biasa. Dia tau dan paham bahwa video tentang Almaidah 51 sudah diedit dan diberi transcript provokasi. Semua orang juga pasti tau bahwa itu tidak melecehkan. Niatnya untuk memastikan warga kepulauan seribu mau bekerja bersama Pemprov DKI terkait koperasi produktif. Tidak terpengaruh harus memilihnya atau tak perlu berpikir takut untuk tidak memilihnya. Program tetap jalan, meskipun Ahok tidak lagi jadi Gubernur.

Namun gara-gara Buni Yani, pendukung Anies Sandi, yang menulis transcript provokasi tidak sesuai dengan isi video yang sudah dipendekkan, banyak orang jadi salah paham.

Saya pikir orang yang bisa mengakhiri kekacauan ini adalah Anies Baswedan. Karena pendukungnya lah yang memprovokasi dan menulis transcript berbeda. Namun nyatanya Anies malah ikut menyalahkan Ahok. Dengan kalimat santunnya itu, Anies juga menyatakan menghormati pihak yang ingin melaporkan Ahok ke Polisi. Atas nama kekuasaan, omong kosong dengan politik santun dan festival gagasan. Saat ada peluang menyerang, Anies memanfaatkannya sambil pura-pura tidak tau permasalahan yang sebenarnya.

Sementara Agus Harimurti justru lebih ambisius lagi, dia mengharap Polisi bisa mengusut tuntas video Ahok.

“Aduan yang diajukan oleh sejumlah kalangan tehadap penegak hukum, menurut saya perlu direspons secara serius, transparan dan bertanggung jawab. Saya tetap berasumsi negara hadir dan menyelesaikan setiap persoalan dengan bijak, adil dan bertanggung jawab,” kata Agus.

Harap maklum kalau Agus tidak bisa semanis Anies, sebab dia memang masih baru dalam dunia politik. Sehingga bicaranya masih belum bisa ditutup-tutupi. Namun keduanya sama saja, pada intinya mereka ingin Ahok diproses hukum, kalau bisa ya dibatalkan pencalonannya supaya hanya tersisa mereka berdua.

Provokasi tingkat akar rumput juga memanas. Kemarin banyak rumah-rumah yang ditandai lambang salip cat warna putih. Entah apa maksudnya, namun ini jelas mengkhawatirkan. Karena bisa jadi itu tanda penyerangan.

Kemudian hari ini juga rencananya akan berlangsung deklarasi “relawan berani mati” untuk mengadili Ahok. Koordinatornya adalah Gusrin Lessy 081235999515. Mereka ingin menghukum Ahok karena menganggap aparat penegak hukum tidak melakukan apa-apa.

Sementara provokator Buni Yani yang menulis transcript berbeda dengan video masih merasa tidak bersalah. Berkelit bahwa dia tidak mengedit videonya, padahal masalah utamanya adalah tulisan provokatif yang mengubah transcript.

Dalam kondisi seperti ini, saat semuanya lawannya menyerang, Ahok kemudian muncul dan bilang “saya minta maaf.” Luar biasa.

Bagi saya ini tentang dua hal. Terlepas apakah Ahok sengaja meminta maaf saat semua orang sudah berkomentar tentang dirinya, pada intinya Ahok berhasil membuka topeng-topeng kepicikan lawan dan kawannya. Sekarang kita jadi tau kalau Anies tak sesantun yang diucapkannya. Agus juga terlihat ingin agar Pilgub DKI hanya diikuti oleh dirinya dan Anies. Sementara Ahok berani meminta maaf, meskipun dirinya sadar dan banyak orang paham bahwa itu bukan sebuah kesalahan.



Bawaslu, tokoh ulama sampai Polisi menolak laporan video Ahok yang disebut pelecehan terhadap Islam. Semua sadar bahwa itu hanya provokasi dari orang yang tidak bertanggung jawab. Namun saat itulah Ahok keluar untuk mengakhirinya dengan “meminta maaf.”

Saya cukup emosional dengan sikap Ahok yang ini. Sebab saya pernah mengalami hal yang serupa. Sebelum lahir seword.com ini, saya sempat jadi sasaran tembak di Kompasiana. Saat itu ada kasus “Pakde Kartono vs Gayus Tambunan.” Dalam arus isu yang cukup keras, saya berada di pihak yang ingin mengakhiri semua provokasi dan gosip-gosip. Kalau memang akun Pakde Kartono itu Gayus, mari kita selesaikan dan sebut saja namanya. Jangan hanya menyebut inisial dan ciri-ciri yang malah tidak jelas.

Saya menjadi sasaran tembak karena fitnah dan plintiran. Saat itu ada tante-tante berisik yang usilnya melebihi banci kaleng lampu merah. Dalam bahasan tersebut saya tantang untuk sebut nama dan terbuka saja lah, jangan menakut-nakuti member kompasiana atau membuat gosip-gosip. Di akhir artikel saya bilang jangan takut jika benar. Masa kita takut sama Gayus yang berada di penjara? Lagian kalau mau meneror ke Madura misalnya, paling juga dikalungi celurit.

Nah karena ada provokatornya, jadi seolah saya mau mengalungi celurit si tante-tante tadi. Banyak orang menulis surat terbuka beserta cacian dan makian. Malah ada yang menantang duel dengan saya. Haha

Apa saya minta maaf? Tidak. Saya coba jelaskan yang sebenarnya. Dan saat orang-orang yang saya anggap teman hanya diam tanpa pembelaan atau malah ikut memprovokasi dan pura-pura bego, saat itulah saya menuliskan permintaan maaf secara terbuka.

Saya jadi tau siapa saja teman-teman saya. Siapa saja yang tidak senang dengan kehadiran saya di Kompasiana saat itu (sebab diakui atau tidak, hampir semua artikel saya jadi trending saat itu).

Saya kemudian menyatakan mundur dan pensiun dari Kompasiana. Dan alhamdulillah sekarang artikel-artikel saya di seword.com justru jauh lebih ngehits dibanding kompasiana.

Kisah saya dan Ahok agak mirip. Kami sama-sama meminta maaf meski semua itu hanya salah paham yang dibuat oleh provokator untuk tujuan menjatuhkan. Ke depan, Ahok mungkin akan melejit seperti seword.com ini. Mengalahkan lawan-lawannya, bersinar terang, sementara orang yang ikut memprovokasi dan provokatornya justru tenggelam tak dianggap. Sebab sudah hukum Allah, bahwa orang yang didzolomi justru akan ditempatkan di posisi yang lebih baik.

Terakhir, orang-orang yang menghujat dan menuntut macam-macam itu akan malu sendiri setelah ini. Mau menuntut apa lagi kalau Ahok sudah minta maaf? Sementara Polisi juga menolak laporan mereka. Dan nasib provokatornya entah akan bagaimana, tapi minimal sekarang dia sudah non aktif dari kampus tempatnya mengajar. Sementara Ahok justru mendapat simpati dan kemungkinan besar akan jadi Gubernur lagi.


Begitulah kura-kura.
seword.com

G+

APA KOMENTAR ANDA?
BERITA MENARIK
loading...
BERITA TERBARU
    Loading...