5 Kepribadian Raja Thailand Bhumibol Adulyadej Yang Wajib Diketahui



Pemerintah Thailand mengumumkan secara resmi Raja Bhumibol Adulyadej wafat pada Kamis, 13 Oktober di Rumah Sakit Siriraj, Bangkok. Bhumibol meninggal di usia 88 tahun.

Pria yang diberi gelar Rama IX itu diketahui menjadi pemimpin yang berkuasa selama 7 dekade dan sangat dicintai oleh rakyatnya. Hal itu terlihat dari ratusan warga Thailand yang berkumpul di depan rumah sakit dan mendoakan kesembuhannya.

Raja Bhumibol diketahui juga sempat berkunjung ke Bali tahun 1957 dan menginap di Istana Tapak Siring bersama Ratu Sirikit. Keduanya menjadi tamu negara pertama yang menginap di sana usai Istana tersebut resmi digunakan.

Berikut 5 hal penting yang perlu kamu ketahui mengenai Raja Bhumibol:



1. Raja Thailand paling lama berkuasa

Bhumibol lahir di Amerika Serikat pada 5 Desember 1927. Dia menjadi anggota keluarga Kerajaan Thailand pertama yang lahir di luar negeri, lantaran ayahnya menuntut ilmu di Universitas Harvard.

Dia naik tahta pada 9 Juni 1946 usai kakaknya, Raja Ananda Mahidol tewas akibat kena luka tembak. Pemerintah ketika itu menyatakan Ananda tidak sengaja menembak dirinya sendiri. Tetapi, menurut hasil komite pencari fakta hal itu tidak masuk akal.

Pada akhirnya, kerajaan menghukum mati dua orang kepercayaan karena diduga telah membunuh Ananda. Kendati sudah naik tahta sejak tahun 1946, tetapi Bhumibol baru melalui proses penobatan pada Mei 1950.

Walau menjadi Raja, tetapi kekuasaan Bhumibol terbatas khususnya setelah sistem monarki absolut dihapuskan tahun 1932. Di awal-awal tahun kepemimpinannya, Bhumibol selalu dibayangi para pemimpin militer dari negara lain. Tetapi, dengan dukungan putra kerajaan lainnya dan para jenderal di Tanah Air, Bhumibol berhasil membangun kembali citra kerajaan.

Maka, tak heran jika selama 70 tahun memimpin dia dicintai oleh rakyatnya. Selain itu, dalam sistem kerajaan di Thailand, publik meyakini sosok Raja merupakan pencitraan dari Tuhan. Itu sebabnya foto Bhumibol terpasang di hampir rumah setiap warga Thailand


2. Sosok pemersatu

Raja Bhumibol dilihat secara luas sebagai sosok pemersatu, lantaran Thailand terpecah menjadi dua golongan antara kelompok elit pendukung kerajaan dan golongan pro demokrasi yang didominasi oleh mantan Perdana Menteri sekaligus biliuner, Thaksin Shinawatra. Oleh sebab itu, dia beberapa kali terlibat dalam kisruh politik dan kudeta di Thailand.

Keterlibatan pertama dalam politik Thailand terjadi pada tahun 1973. Saat itu demonstran pro demokrasi berunjuk rasa di Bangkok dihujani tembakan oleh personil militer. Mereka kemudian diizinkan untuk berlindung di dalam Istana. Akibat keterlibatan tersebut, pemerintahan yang dipimpin oleh Perdana Menteri Jenderal Thanom Kittikachorn bubar.

Keterlibatan lainnya terjadi pada tahun 1992 ketika puluhan demonstran ditembaki usai memprotes upaya kudeta oleh Jenderal Suchinda Kraprayoon. Bhumibol kemudian memanggil Suchinda dan pemimpin unjuk rasa, Jenderal Chamlong Srimuang.

Saat itu, di bawah sorotan kamera, keduanya terekam dalam keadaan berlut sambil dimaki-maki oleh Bhumibol. Sistem demokrasi pun kembali pulih.

Namun, dalam krisis yang menimpa kepemimpinan mantan PM Thaksin di tahun 2006, Bhumibol enggan untuk ikut campur. Dia merasa hal itu tidak sesuai. Akhirnya, Thaksin terlempar dari kursi PM.

Sementara, dalam kudeta tahun 2014 yang dilakukan oleh militer, Bhumibol akhirnya merestui Jenderal Prayuth Chan-ocha untuk duduk sebagai PM.


3. Tidak takut dikritik

Dalam pidato untuk memperingati hari ulang tahunnya ke-76 tahun 2005 lalu, Bhumibol sempat berkomentar terkait hukum lese majeste yang berlaku di Thailand. Berdasarkan hukum tersebut, siapa pun dilarang menghina atau mengancam anggota keluarga kerjaan.

Dalam pasal 112 UU tersebut tertulis: “siapa pun yang mencemarkan nama baik, menghina atau mengancam raja, ratu, atau pewaris tahta maka bisa dibui selama 15 tahun." Tetapi, dalam pidatonya ketika itu, Bhumibol justru meminta agar publik mengkritiknya.

“Saya tidak takut dikritik jika apa yang saya lakukan keliru, karena dengan begitu saya akan tahu (apa kesalahan saya). Jika kalian mengatakan Raja tidak dapat dikritik maka hal itu berarti raja bukan seorang manusia,” ujar Bhumibol seperti dikutip media Thailand, The Nation.

Dia bahkan menegaskan bahwa raja juga manusia dan bisa berbuat salah. Tetapi, pada faktanya masih banyak individu yang dibui pasca pidato Bhumibol di tahun 2005 lalu.


4. Masuk jajaran orang terkaya di muka bumi

Berdasarkan data yang dirilis oleh Majalah Forbes dan Business Spectator pada tahun 2014, Bhumibol memiliki total harta kekayaan senilai US$30 miliar. Angka itu mengalahkan kekayaan yang dimiliki oleh Raja Abdullah dari Saudi yakni US$18 miliar dan Ratu Elizabeth sebesar US$500 juta.

Kekayaannya dikelola oleh Biro Properti Kerajaan. Total kekayaan yang dimiliki termasuk lebih dari 1.200 hektar area tanah di pusat kota Bangkok dan saham di perusahaan Siam Cement dan Siam Commercial Bank. Bhumibol juga memiliki mahkota yang dilapisi berlian 545 karat. Mahkota itu dia pakai ketika memperingati dirinya naik tahta.


5. Musisi dan fotografer andal

Walau disebut tidak pernah tersenyum, tetapi Bhumibol memiliki kecintaan yang besar terhadap musik jazz dan dunia fotografi. Pria yang bergelar Raja Rama IX itu diketahui mahir bermain saksofon dan meracik lagu jazz.

Bahkan, dia pernah tampil bersama dengan beberapa musisi jazz termasuk Benny Goodman. Selain itu, sebanyak 49 lagu berhasil dia ciptakan. Sebagian besar lagu tersebut bergenre jazz swing.


Bhumibol juga diketahui seorang fotografer yang andal, walaupun lebih sering tidak menenteng kamera. Dia gemar menjepret gambar hitam putih.
rappler.com

G+

APA KOMENTAR ANDA?
BERITA MENARIK
loading...
BERITA TERBARU
    Loading...