TRIO MAUT AS SS SD Coba Hadang Arcanda Tahar Jadi Menteri ESDM Lagi



Trio maut Ari Soemarno (AS), Sudirman Said (SS) dan Said Didu (SD) masih menancapkan pengaruhnya dalam hal migas dan energi. Mereka masih menaruh ‘orang-orang’ mereka di jajaran Esellon 1 dan 2 Kementrian ESDM, Pertamina dan SKK Migas. Orang-orang inilah yang menjadi tangan dan operator dalam mengamankan kepentingan trio maut ini dalam menguasai bisnis sektor migas dan energi.


Belakangan, terpentalnya kursi kementrian ESDM dari tangan Sudirman Said juga membuat berang kelompok ini, terutama Sudirman Said yang menyimpan bara dendam kepada Jokowi dan penggantinya Arcandra Tahar. Tereksposnya kasus dwi kewarganegaraan AT juga bagian dari operasi balas dendam Sudirman Said. 

Jokowi merasa ditampar dan dipermalukan dengan tersebarnya kasus Arcandra Tahar. Jokowi harus tahu bahwa tersebarnya skandal dwi kewarganegaraan Arcandra Tahar adalah operasi dari Trio Maut ini terutama Sudirman Said dalam membalas dendam dan menjegal orang –seperti Arcandra Tahar yang dapat menghambat kepentingan trio maut ini dalam menguasai sektor migas dan energi.

Keinginan Jokowi untuk mengembalikan kedudukan Arcandra Tahar sebagai menteri ESDM juga akan kembali diganggu dan dihambat oleh trio maut ini. 

Kelompok Ari Soemarno cs akan melakukan penggiringan opini untuk menolak Arcandra Tahar kembali ke posisi menteri ESDM. 

Pasca dicopotnya Sudirman Said dari menteri ESDM, kelompok ini juga takut akan dicopotnya ‘orang-orang’ mereka di esselon 1 dan 2 Kementrian ESDM, Pertamina dan SKK Migas. Kelompok ini (AS, SS dan SD) tidak akan terima dan cenderung mengancam jika ‘orang-orang’ mereka di tiga institusi (ESDM, Pertamina dan SKK Migas) dicopot. Mereka akan kembali melakukan pembalasan terhadap Jokowi.


Petinggi Global Future Institute (GFI), Hendrajit, sempat mengungkapkan bahwa Sudirman Said di kalangan bisnis migas dikenal sebagai “mafia minyak”.

“Sudirman di kalangan bisnis migas dikenal sebagai ‘mafia minyak’ dengan strateginya seolah memotong impor minyak, tapi malah menerapkan skema Pola Integrated Suply Chain (ISC). Seolah-olah importir langsung tapi menjadi broker minyak. Sewaktu Sudirman menjabat corporate secretary Pertamina era Ari Soemarno, di Pertamina Sudirman mendapat sokongan kuat Arifin Panigoro,” ungkap Hendrajit.

Berawal Mula dari sini....

Semua kisah tentang Dirman bermula di Pertamina. Endriartono Sutarto, mantan Panglima TNI Era SBY, yang menjadi Komisaris Utama (Komut) Pertamina, (sempat punya hubungan “manis” dengan Rini Sumarno), merupakan sosok penting yang membawa Dirman ke Pertamina. Endriartono menitipkan Dirman ke Ari Sumarno, Dirut Pertamina kala itu. Oleh Ari, Dirman dijadikan staf ahli Dirut, dan selanjutnya diberi tugas sebagai Senior Vice President (SVP) untuk Integrated Supply Chain (ISC). Endriartono menenteng Dirman ke Pertamina karena kecerdikan Dirman mengambil hatinya ketika masih jadi Tim Penataan Unit Bisnis TNI. Satu paket dengan Dirman adalah Karen Agustiawan (sosok yang pada akhirnya menggantikan Ari sebagai Dirut) dan Widhyawan Prawiraatmadja (saat ini Staf Ahli Menteri ESDM).


Pasca Endriartono, Ari Sumarno adalah sosok utama yang mengisi hari-hari Dirman selanjutnya. Siapa sesungguhnya Ari dan apa peran Ari bagi Dirman? Ari Sumarno merupakan pegawai karir di Pertamina yang mengawali kerjanya di bagian pengolahan. Karirnya sesungguhnya sudah tamat pada awal 1990-an, ketikadia terbukti melakukan penyimpangan dalam pembangunan Kilang LNG Bontang.
(Baca:http://finance.detik.com/read/2006/03/08/195905/555082/4/ari-soemarno-dirut-pertamina-yang-pernah-terpinggirkan dan http://www.jokowinomics.com/2015/06/24/opini/kejahatan-ekonomi-ari-soemarno/).

Jabatan Ari diturunkan dan tidak diberikan kewenangan apapun. Namun, karena kelihaiannya, kartunya selalu hidup.

Pasca reformasi, Ari dipromosikan menjadi Presiden Direktur Petral Singapura, perusahaan yang menjadi trading arms Pertamina dalam memasok minyak mentah dan BBM untuk kebutuhan dalam negeri. Saat Ari Sumarno menjabat Presdir Petral, ada dua sosok penting yang membantunya: yaitu Hanung Budya (terakhir menjabat selaku Direktur Pemasaran Pertamina) dan Daniel Purba (saat ini menjabat SPV dari ISC). Tapak-tapak mafia Ari di sektor migas mulai dilangkahkan di Petral ini.
Petral adalah pintu masuk bagi para mafia migas mengejar rente ekonomi Republik ini. Di era keemasan Orde Baru, Petral menggandeng Permindo (milik Bob Hasan dan Bambang Trihatmodjo Soeharto) untuk bersama mencari rente ekonomi. Di balik Permindo, ada sosok God Father yang memegang kendali kunci yang mengatur semua rantai bisnis pasokan minyak mentah dan BBM ke Indonesia. Dia adalah NASRAT MUZAYYIN. (http://concordenergygroup.com/about-us/our-people/knowledge-base/). 

Cukong migas pemegang paspor Libanon ini adalah tokoh sentral tersembunyi yang menjadi GURU BESAR dari semua para mafia migas di Indonesia, termasuk Dirman! Tak banyak kalangan yang bisa mengendus sosok satu ini.

Runtuhnya Orde Baru bukan berarti kiamat bagi Nasrat. Pengalaman dan kepiawaiannya menelusuri seluk beluk bisnis migas mengantarkan salah satu anak didiknya, Ari, ketampuk puncak kendali Petral. Selang beberapa waktukemudian, Muhammad Reza Chalid/ the Legend, salah satu murid Nasrat lainnya, diberi akses luas Purnomo Yusgiantoro (waktu itu Menteri ESDM) untuk masuk dan “belajar” di Petral, sekaligus berkongsi dengan Ari. Kekosongan Permindo, diisi oleh Reza dengan dukungan penuh Ari dan Nasrat. 

Ari hanya kurang dari 3 tahun di Petral. Pada tahun 2004, dia dipromosikan menjadi Direktur Pemasaran dan Niaga Pertamina. Posisinya di Petral digantikan oleh Hanung Budya dan posisi Hanung selaku VP digantikan oleh Daniel Purba. 

Kedua nama terakhir inilah yang menjadi operator dari Reza dalam melebarkan bisnis pengadaan minyak mentah dan BBM dalam negeri. Di waktu bersamaan, Sang Guru Besar, Nasrat, pelan tapi pasti tersingkir dari gelanggang permainan, hingga akhirnya, Reza mengambil alih kendali. Merasa bahwa Reza makin kuat dan berkuasa, Nasrat komplain ke Ari. Hubungan keduannya renggang. Melalui Purnomo Yusgiantoro, waktu itu, terumuskanlah satu formula kesepakatan antara sang Guru dan muridnya, dalam bisnis pengadaan minyak mentah dan BBM Pertamina. Nasrat, karena sudah kenyang puluhan tahun mendapat porsi 30%, dan Reza memegang 50% dari total pasokan yang dibutuhkan. 20% sisanya dibagi-bagi untuk akomodasi pihak lain.

Perdamaian bisnis ini adalah jalan emas bagi Ari Sumarno sebagai pebisnis. Karena loyalitasnya selama ini pada Nasrat, Ari mendapatjatah saham 35% di Concord Energy, milik Nasrat (http://concordenergygroup.com/about-us/our-people/knowledge-base/). Ari lantas mendudukkan puteranya, Yuri Soemarno, sebagai salah satu Direktur di Concord Energy. Lewat bendera Concord, Ari mulai gagah dalam dunia bisnis migas, dan secara pelan berani mengurangi porsi Reza. Kompetisi bisnis Reza dan Ari dimulai! Dari yang semula bertindak sebagai tandem bisnis dan sahabat, Ari berbalik menjadi orang terdepanyang berhasrat mengubur Reza dan kerajaan bisnisnya.

Melalui back up Concord Energy dan kolaborasi dengan sang Guru Besar, Ari lantas diangkat sebagai Dirut Pertamina, pada tahun 2008. Di Pertamina era Ari, muncul tiga aktor migas baru yang langsung berkoordinasi ke Ari, yaitu Dirman, Widhyawan Prawiraatmadja, dan Karen Agustiawan. Tiga sosok baru itu memperkuat Ari sehingga dirinya tambah yakin bisa melumat Reza dengan Petralnya. Skenarionya, Ari bakal mendorong Concord Energy sebagai pengganti Petral via PT Pertamina Integrated Supply Chain (ISC Pertamina), dengan pola transasi belakang layar sebagai business arranger. Ari konsisten membabat Reza dan membuka jalan seluas-luasnya bagi gurunya, Nasrat, untuk kembali menguasai.

Kembali ke Dirman. Ia adalah sosok yang culun dan biasa saja dalam percaturan bisnis migas. Kelebihannya satu saja: sangat patuh dan tunduk ke Ari. Tak lebih. Dirman yang awalnya jadi staf ahli Dirut, lantas ditugasi sebagai SPV di ISC, unit baru yang dibentuk untuk menggantikan peran Petral (yang masih dikuasai Reza) dalam pasokan minyak mentah dan BBM nasional. 

Baca juga:


Ditaruhnya Dirman di ISC adalah upaya kamuflase atas rencana jahatnya guna melapangkan jalan Concord Energy menguasai bisnis migas Pertamina. Dirman secara sadar menutupi wajahnya dengan topeng aktivis antikorupsi dan memperalat MTI, untuk jadi tameng bagi tujuan bisnis jahat mafia migas. Begitulah modusnya. 


Sederhana tapi sukses mengelabui publik. Selalu direkayasa ke publik bahwa ISC adalah antithesis dari Petral, dipimpin sosok anti korupsi, Dirman, dan karenanya patut didukung Presiden dan publik. Sehingga agenda-agenda busuk yang sudah dirancang para mafia migas, Ari, Nasrat, dan Dirman dapat berjalan mulus.

Untuk back up di lini pengadaan migas, Ari memanggil pulang adik seperguruannya, Daniel Purba,dan memberinya jabatan VP di ISC, guna membantu Dirman yang selalu lugu namun patuh. Daniel Purba masih muda saat itu. Karenanya, meski dia banyak memfasilitasi Reza di Petral, tapi masih bisa dipengaruhi, digandeng, dan dijadikan operator untuk mengeksekusi kepentingan Ari. Terbukti sampai sekarang, tiga serangkai Ari Sumarno, Dirman dan Daniel Purba masih berjalan mesra. Hanung karena tidak tunduk pada Ari, akhirnya disingkirkan.

Melalui perancangan mereka, praktis Petral kehilangan pengaruhnya. Saat itulah mesin ISC dihidupkan untuk siap-siap take off bersama dengan Concord Energy yang dipiloti oleh Nasrat. Dirman, selaku pendatang baru di bisnis ini, mulai dikenalkan dengan Nasrat dan Concord Energy. Ari perintahkan Dirman untuk mendownload ilmu mafia dari Nasrat dan Daniel Purba. Dan sukseslah Dirman menjadi keluarga besar salah satu mafia migas di Republik tercinta ini. Selamat datang mas Dirman, welcome to the Club!!!

Sesungguhnya Ari, Reza, Dirman, Daniel, Hanung dan lain-lain memiliki satu guru, Nasrat. Pembeda mereka tegas: Reza bisnis melalui Petral sebagai periuk utamanya, sedangkan Ari dan Dirman memakai Concord Energy dan ISC sebagai ladang penghisapan minyak. Dalam hal ini Ari dan Dirman setia dengan sang Guru, Nasrat.

Mari kita lihat apa yang dilakukan Dirman pertama kali memimpin ISC. Selang beberapa hari dilantik, November 2008, dia langsung terbang ke London bersama Daniel Purba dan menginap di Rizt Carlton untuk bertemu dengan Perusahaan Minyak Nasional (NOC) Libya yang difasilitasi oleh Concord Energy. Pertemuan itu menyepakati Perusahan Migas Libya itu memasok minyak mentah ke Pertamina dengan harga yang telah diatur. Dirman meyakini deal ini ada di bawah kewenangannya karena sudah “direstui” oleh Ari selaku Dirut. Saat itu juga Dirman menandatangani Sales and Purchase Agreement atas nama ISC Pertamina untuk volume 4 juta barel minyak mentah.

Penunjukan langsung dari Dirman itu jelas melanggar prosedur tata cara pengadaan minyak di Pertamina. Tidak ada klausul mengenai penunjukan langsung. Semua pengadaan harus dilakukan dengan mekanisme tender, termasuk jika ada NOC dari sebuah negara ingin ikut memasok minyak ke Pertamina. Prosedur lain yang dilanggar adalah tidak adanya persetujuan dari 3 Direktur lainnya di Pertamina sebelum sebuah dokumen pengadaan minyak ditandatangani.

Bagaimana sesungguhnya modus operandi ISC melalui NOC tersebut? Pola yang dibangun sangatlah halus dan canggih untuk ukuran Indonesia, di mana transaksi semua itu dilakukan di Luar Negeri dan memiliki underlying documents yang lengkap.

Praktek kejahatan bisnis Ari dan Dirman bisa dilacak dari pertemuan Dirman dan NOC Libya di London itu, yang penuh perancangan matang sebelumnya. Peran dari Nasrat dan Concord Energy,dan Ari Sumarno sangatlah sentral. Nasrat-lah yang mengatur deal semua bisnis. Untuk setiap barrel yang dipasok ke Pertamina melalui ISC, NOC Libya harus berkomitment membayar sejumlah fee kepada Concord.
Lantas, apa bedanya Concord Energy dengan ISC, dan perusahan Reza dengan Petral? Yang satu melalui satu proses yang seakan-akan transparan melalui tender di Petral, dengan Reza penguasanya, dan satunya lagi melalui proses tertutup negosiasi dengan NOC via ISC, dengan Concord Energy memainkan seluruh perancangan bisnisnya. Ujungnya adalah rent seeker ekonomi. Sama-sama mengutip dollar dari tiap barrel BBM yang dipasok ke Pertamina.
Namun, wajah Dirman selalu dihiasi topeng antikorupsi. Rencana jahat itu tinggalah rencana. Dokumen penunjukan langsung yang sudah diteken Dirman di London, yang tidak transparan dan melanggar prosedur itu, seharusnya efektif pada bulan Juni 2009. Pesta yang diharapkan terjadi, bubar lebih awal.Awal 2009, Ari Sumarno dipecat dari Dirut Pertamina, digantikan oleh Karen Agustiawan, anak didiknya sendiri. Perjanjian yang sudah diteken Dirman bersama dengan NOC Libya dibatalkan oleh Karen. Selain itu, Dirman dimutasi dari ISC, karena sudah menjadi jangkar praktek bisnis kotor Ari dan Nasrat.

Jadi, adalah kebohongan kalau didepaknya Dirman dari SPV ISC karena semata-mata desakan dari Reza. Sejarah membuktikan bahwa diberhentikannya Dirman dari SPV di ISC lebih dominan karena hasrat yang menggebu-gebu dalam menggelar karpet merah ke Concord Energy dengan cara menampik aturan hukum dan mengkhianati asas transparansi.

Reza, Ari, dan Dirman setali tiga uang: berasal dari satu Guru, dan mencari keuntungan untuk diri dan kelompoknya dengan memperalat jabatan dan menginjak-injak hukum. Jika Dirman mengeksploitasi ketidaktahuan publik melalui opini bahwa Petral dan Reza itu mafia, sesungguhnya pula dia dan Ari, bersama Nasrat, juga mempraktekkan hal sama dalam bentuk lain. Intinya, mereka Dirman di dalamnya ikatan adalah korps mafia.

Lihatlah kebijakannya tentang audit forensik Petral. Mengapa audit forensik yang dilakukan Dirman atas Petral hanya diberlakukan dalam kurun waktu 2012 s.d 2014? 

Mengapa audit tidak dimulai sejak tahun 2001, saat Ari jadi Dirut Petral dan Direktur Pemasaran Pertamina, saat Ari masih mesra bergandengan dengan Reza? Pertanyaan serupa juga berlaku atas ISC itu sendiri pada saat Dirman selaku SPV di ISC. Jika tidak ada niat yang busuk untuk menyembunyikan sesuatu, tentunya tidak ada alasan untuk membatasi jangka waktu audit forensik tersebut. Jelas bagi Dirman, mengaudit sang mentor, Ari, dan sang Guru Besar, Nasrat, merupakan tindakan tak terpuji bagimurid dan loyalis terbaik.

Sudirman juga pernah menjabat Wakil Dirut PT Petrosea Tbk dan Group Chief of Human Capital and Corporate Services di PT Indika Energy Tbk. Kedua perusahaan terbuka tersebut bergerak di bidang energi dan pertambangan.

Terkait jabatan baru Sudirman Said di Kabinet Kerja, ekonom Ikhsan Modjo, memberikan catatan, bahwa Sudirman termasuk petinggi Pertamina yang mendirikan Petral. “Ngeri. SS termasuk petinggi Pertamina yang dirikan Petral,” tulis Ikhsan Modjo di akun Twitter @IkhsanModjo.

Di sisi lain, pengamat energi Kurtubi mengaku belum pernah mendengar tentang konsep atau ide Sudirman dalam menghapus mafia migas. “Sejauh ini saya belum pernah mendengar tentang konsep atau ide beliau dalam menghapus mafia migas,” kata Kurtubi.

Selepas dicampakkan dari ISC Pertamina karena kelakuannya yang tidak transparan, Dirman ditampung oleh Indika Energy, satu perusahaan energi dan migas nasional. Kariernya di awali dari Direktur SDM di Petrosea, anak perusahaan Indika Energy,selanjutnya jadi Direktur SDM di holding Indika Energy. Pengabdian Dirman di Indika ini akan mewarnai sepak terjang Dirman selanjutnya dalam dunia persilatan energi dan sumber daya mineral tanah air.
Selepas dari Indika Energy, Dirman jadi Dirut Pindad, perusahaan plat merah yang bergerak di alat persenjataan dan kendaraan tempur. Masuknya Dirman di Pindad tidak lepas dari peran Syafrie Syamsoeddin (waktu itu menjabat sebagai Wakil Menteri Pertahanan).


Akal-akalan Dirman di Freeport

Keterlibatan Dirman dan para kolega bisnisnya di Freeport bermula dari masa transisi kekuasaan SBY ke Jokowi (pada saat itu sudah ada Presiden/ Wapres terpilih). September 2014, saat kunjungan terakhir SBY ke New York untuk menghadiri sidang PBB, dirancang satu rencana penandatanganan MOU antara Pemerintah RI dengan PT Freeport Indonesia. Intinya, MoU itu memuat beberapa poin kesepakatan terkait dengan rencana amanden Kontrak Karya sebagaimana disahkan oleh UU No. 4 tahun 2009 dan juga nasib operasi Freeport pasca 2021.

Pihak Pemerintah yang aktif saat itu adalah Chairul Tanjung, pengganti Jero Wacik yang ditahan KPK. Sebelum rencana puncak di New York tersebut, ternyata, Kantor Pusat Freeport di Amerika di lobby oleh Tim JK, diketuai oleh Sofjan Wanandi, agar rencana teken MOU itu dibatalkan saja, dan ditunda sampai pemerintahan baru terbentuk, agar kepastian bisnis lebih terjaga. Sofyan Wanandi memanggul misi JK, meyakinkan dan memastikan operasi Freeport akan aman pasca 2021. Bujukan maut Sofyan menuai hasil manis. Dokumen MOU yang sudah siap diteken Chairul Tanjung batal dan ditunda.

Untuk menunaikan janjinya kepada Freeport secepat-cepatnya, JK harus memastikan bahwa ESDM 1 haruslah “orangnya”. Karenanya, Dirman dipasang jadi ESDM 1, dengan back up koalisi JK, Ari, dan Rini. Di sinilah Dirman memainkan kuncinya. Kebijakan-kebijakannya terkait Freeport persis sama dengan perancangan bisnis JK, Ari dan Rini. Di sinilah kepatuhan Dirman mendapat nilai tertinggi dari JK, Ari, dan Rini.

Untuk pengamanan di level operasional, JK meminta James Moffett, petinggi Freeport, untuk mengganti jajaran Direksi Freeport Indonesia. Perancangan berjalan dengan menunjuk Maroef Sjamsoeddin—adik kandung Sjafrie Sjamsoeddin—yang waktu itu menjabat sebagai Wakil Kepala BIN, menjadi Dirut PT Freeport Indonesia.

Perancangan terbaik lahir dari JK: memegang kendali dua lini, yaitu pengendali kebijakan, Dirman, dan pengendali operasional, Makroef. 
Selanjutnya tinggal meyakinkan Jokowi bahwa Freeport ini penting bagi investasi di Indonesia, dan karenanya mesti dibantu percepatan perpanjangan kontraknya. Janji JK dan Dirman kepada Freeport untuk memutuskan perpanjangan kontrak pada akhir 2014 gagal dipenuhi Dirman. 

JK dan Dirman berkali-kali gagal meyakinkan Jokowi, dan berujung pada molornya perpanjangan kontrak sampai dengan saat ini. Bahkan Freeport merasa frustasi dengan kinerja Dirman, yang banyak maunya tapi gagal memenuhi janji.

Motif bisnis adalah alasan terbesar JK dan Dirman “membantu” Freeport mendapatkan kepastian operasi pasca 2021. Mereka bukan pebisnis kacangan. JK dan Dirman bahkan sudah memetakan peluang bisnis mana saja yang akan dikerjakan oleh Bukaka Group, Bosowa Group dan Indika Group. 

Bosowa akan memasok semen untuk pembangunan; penerangan tambang bawah tanah akan dipasok Bukaka; Indika akan mendapat proyek pasokan bahan peledak, pembakit listrik tenaga air dan lainnya (http://www.kompasiana.com/fikarahmaningsih/sudirman-said-penjaga-kepentingan-jk-di-freeport_55fe5be40223bd1f206d31e9).

Tidak mengherankan, di media massa Dirman diangap sebagai Menteri yang sangat bersemangat dan agresif memperjuangan Freeport Indonesia, sebelum “dikepret” oleh Rizal Ramli di bulan September baca. Dirman kalap dan membabi buta melayani Freeport, apalagi Freeport sudah protes atas keterlambatan janji Dirman. Meski begitu, Freeport masih support dan memberikan apapun permintaan Dirman antara lain beberapa kontrak pengadaan ke Indika Group.

Indika Energy yang sejak lama eksis di Freeport tentu saja ingin memperdalam pengaruhnya di sana. Dirman bahkan meminta Freeport untuk memberi porsi bisnis lebih besar kepada Indika Group. Upaya Dirman tidak sia-sia. Petrosea, anak usaha dan Dirman pernah jadi Direktur, mendapatkan proyek pembangunan tanggul lumpur senilai US$ 30 juta per tahun. Selanjutnya, penguasaan wilayah kerja Wabu yang akan dikembalikan Freeport ke Pemerintah RI, diminta Dirman untuk diberikan ke Indika. Banyak lagi kegiatan yang bernilai puluhan bahkan ratusan jutaan US$ yang sudah dikondisikan untuk dibagi secara cantik antara Bukaka, Bosowa dan Indika. Kunci semua itu tentu saja Dirman, Sang Pemberantas Mafia Migas.

Jika melihat kelakuan Dirman atas Freeport yang turut mengkapling-kapling bisnis dan mendorong Indika Group, memfasilitasi Bukaka dan Bosowa masuk, tentu bisa dipastikan Dirman sama busuknya dengan orang yang dia ungkap ke publik sebagai politisi yang busuk. Bedanya adalah soal cara. 

Jika klaim di rekaman itu benar, politisi itu masih menggunakan cara sangat tradisional, sementara Dirman dan timnya menggunakan cara yang lebih maju. Tapi keduanya sama saja, yaitu pemburu rente! Dirman tahu benar memanfaatkan ketidaktahuan publik atas kelakukannya di Freeport, sehingga rekaman itu dijualnya untuk menangguk kesan positif dari publik, bahwa Dirman selalu pejuang anti korupsi dan karenanya suci.

Mafia migas sudah sangat merajalela. Akankah Presiden Jokowi bisa benar - benar membasminya setelah melihat akarnya begitu sangat kuat? Bagaimana menurut anda?



Editor: Dian Ariyani

http://www.kompasiana.com/mti/buka-dulu-topengmu-sudirman-said-ii_564dc540717e610705947c56

http://www.kompasiana.com/mti/buka-dulu-topengmu-sudirman-said-iii_564dcdec717e615707947bea

http://www.siagaindonesia.com/85815/jangkrik-menteri-esdm-kabinet-kerja-sudirman-said-ternyata-mafia-migas-tulen.html

http://www.kaskus.co.id/post/57d041401a99753d138b456c#post57d041401a99753d138b456c


beritateratas.com

G+

APA KOMENTAR ANDA?
BERITA MENARIK
loading...
BERITA TERBARU
    Loading...