Komnas Perlindungan Anak Kunjungi Korban Penyiksaan Orangtua Angkat

Foto: Ketua Komnas Perlindungan Anak, Arist Merdeka Sirait saat mengunjungi korban penyiksaan sadis oleh orangtua angkat di RS Bhayangkara Medan | pojoksatu.id


Tragedi kemanusiaan yang kembali terjadi di Kota Medan, Sumatera Utara terhadap korban penyiksaan secara sadis oleh orang yang katanya orangtua angkat tetapi kelakuan biadab yang tidak masuk ke kategori sifat manusia.

Adalah korban penyiksaan secara biadab tersebut, ML, seorang bocah yang masih berumur 8 tahun, dimana pada saat-saat itu masih butuh belaian, pelukan bahkan sapaan manis dari sang ayah dan ibu tercinta, dimana diumur seperti itu dengan hangatnya sang ayah akan menggendong dan menjaga sang anak agar tidak terluka, tergores ataupun cacat kepada anak kesayangannya.

Korban kedua adalah, HL, umur 28 tahun kakak kandung dari ML yang juga tidak luput dari penyiksaan maut, yang sedianya raut wajahnya akan tersirat sebuah kecantikan ala perempuan-perempuan Nias, daerah tempat dimana HL dan ML berasal.

Sebelumnya melalui media ini telah memberitakan bahwa korban penyiksaan sadis tersebut telah dirawat dan pelaku kejahatan yang terinspirasi dari FILM SAW telah ditangkap dan ditangani oleh Polres Belawan.

Berita sebelumnya:

Atas dukungan dari teman-teman yang dengan sukarela mau menyebarkan melalui media sosial, akhirnya hari ini (22/9/2016) Komisi Perlindungan Anak (Komnas PA), Arist Merdeka Sirait tergerak untuk langsung menemui dan melihat keadaan para korban.

Kedatangan Ketua Komnas PA, Arist Merdeka Sirait membuka takbir akan penyiksaan yang selama ini dialami oleh kedua korban penyiksaan sadis orangtua angkat tersebut.

ML menceritakan kepada Arist M. Sirait bahwa dia sering dipukul pakai kayu dan disayat pakai pisau bahkan seperti di FILM SAW, telinga ML pernah dijepit pakai tang. Biadab kali kan orangtua angkatnya itu.

Kondisi ML, sang bocah malang sekarang ini masih memprihatinkan, masih lemah dan belum stabil karena kekurangan energi dan darah. Yah… tentu saja dia tidak sanggup menanggung penderitaan sedahsyat itu. Anak kecil tertusuk duri aja menangis sejadi-jadinya, apalagi ini…… gak terbayangkan lah……

Menurut Arist Meredeka Sirait, persoalan kekerasan terhadap anak adalah persoalan kita semua. Mengingat wilayah hukum kejadian berada diwilayah hukum Kabupaten Deliserdang, maka Pemkab Deliserdang harus mau membiayai pengobatan kedua korban. Terjadinya kekerasan ini tidak terlepas gagalnya Pemerintah Daerah Deliserdang dalam melindungi warganya.

Arist M. Sirait akan berusaha berkordinasi dengan pihak Kepolisian Belawan untuk mengusut tuntas kasus ini sampai tertuntaskan dan pelaku mendapatkan yang namanya hukuman seberat-beratnya.

Sebelumnya, salah satu tokoh Kepulauan Nias, Turunan B. Gulo mengunjungi kedua korban dirumah sakit dan mengupload foto-foto keadaan kedua korban dimedia sosial, sehingga menjadi viral bagi netizen.

Banyak netizen mengutuk keras perlakuan keluarga orangtua angkat korban, terlebih-lebih semua anggota keluarga orangtua angkat kedua korban ikut ambil andil dalam penyiksaan sadis tersebut.

Ironisnya saat sedang berlangsung PESTA YA’AHOWU di Kepulauan Nias ada ononiha yang mengalami penyiksaan hebat dalam sejarah hidupnya.

G+

APA KOMENTAR ANDA?
BERITA MENARIK
loading...
BERITA TERBARU
    Loading...