Ketika Megawati Memperdaya Prabowo dan SBY



Koalisi Mantan akhirnya secara resmi mengusung pasangan Agus Harimurti Yudhoyono dan Sylviana Murni. Ini memang mengejutkan, saya maklum kalau Muhaimin Iskandar sempat menyebut semoga ada calon turun dari langit. Ternyata memang benar-benar dari langit yang biru (Demokrat). Tapi kejutan ini tak terlalu syuper. Sebab awalnya saya kira kejutannya akan sangat luar biasa, misalnya Chairul Tanjung berpasangan dengan Agus Harimurti atau Ani Yudhoyono. Kan greget.

Di sisi lain, Gerindra dan PKS masih ngotot akan mengusung calon sendiri. Dua partai ini masih sama-sama coba memaksakan kehendaknya. PKS menyodorkan Mardani Ali Sera, sementara Gerindra menginginkan duet Sandiaga Anies Baswedan. Anies jauh lebih berpotensial dibanding Mardani yang sebagaian besar warga tak mengenalnya.

Masalahnya adalah, jika Sandiaga berpasangan dengan Anies, itu artinya PKS tidak mendapat posisi apa-apa. Jika begitu, ada kompensasi sangat mahal yang harus dibayarkan Gerindra atau Sandiaga. Negosiasi perkara kompensasi ini sangat memakan waktu, sehingga wajar kalau sampai pagi ini belum ada keputusan resmi.

Selain itu, ada juga masalah lain. Anies Baswedan menyatakan enggan untuk menerima posisi Cawagub. Dari informan seword devisi konsultan, Anies hanya mau menerima jika di posisi Cagub. Ini artinya, Sandiaga harus mengalah jika mau menggandeng Anis Baswedan. Selain itu Sandiaga juga harus bertanggung jawab memberi kompensasi pada PKS yang tak mendapat posisi.

Dua calon pasangan lawan Ahok-Djarot ini sangat menarik. Sehingga layak dianalisa secara titik-titik oleh Pakar Mantan.

Kecerdasan Megawati

Keputusan Megawati untuk tutup mulut rapat-rapat adalah sebuah sikap serta strategi politik yang sangat mematikan. PDIP yang baru mengumumkan Cagub Cawagub nya malam hari sebelum hari pendaftaran ke KPU dibuka membuat semua partai politik kejang-kejang.

Bayangkan, koalisi kekeluargaan sudah dibentuk dan PDIP termasuk di dalamnya. Semua partai kecuali Golkar, Hanura dan Nasdem sepakat untuk melawan Ahok. Lobi-lobi internal partai terus berjalan. Mereka semua sepakat untuk mengusung Risma Walikota Surabaya ke Jakarta.

Banyaknya politisi dan kader PDIP juga berkomentar tidak akan mengusung Ahok menjadikan peta politik Jakarta seolah selesai, Ahok tak akan didukung PDIP, artinya kemungkinan besar Risma jadi penantang. Dan partai-partai lain akan siap mendukung, jangankan PKB atau PAN, PKS pun menyatakan siap bergabung dengan PDIP jika Risma dimajukan.

Ahok juga memainkan peran. Sehari sebelum pengumuman, Ahok menyatakan tidak akan menunggu PDIP. Kalau pendaftaran dibuka, Ahok akan langsung mendaftar bersama Golkar, Hanura dan Nasdem. Pernyataan tersebut siang hari, sementara Ahok diumumkan secara resmi oleh PDIP malam harinya.

Artinya apa? Semua mereka sedang bermain sinetron politik harapan palsu. Ahok juga dengan liciknya memberi harapan pada partai lain untuk terus menego PDIP. Padahal malamnya Ahok diumumkan secara resmi, mustahil siangnya Ahok belum tahu.

Partai politik selain PDIP, Hanura, Golkar dan Nasdem sama sekali tidak memiliki persiapan. Sampai di detik terakhir mereka masih berharap PDIP mengusung calon sendiri, sehingga mereka bisa merapat ke PDIP atau memilih mendukung Ahok. Namun ternyata PDIP malah mengusung Ahok Djarot. Maka wajar kalau PKB, PAN, PPP dan Demokrat mendadak rapat berkali-kali hingga malam hari. Bahkan semalam mereka tak tidur sampai dinihari untuk merumuskan calon pasangan Cagub Cawagub. Sementara PKS langsung merapat ke Gerindra untuk bisa mengusung calon sendiri.

Semuanya kaget karena belum punya persiapan. Sementara pendaftaran ke KPU hanya tangal 21, 22 dan 23 September, hari ini terakhir. Dalam waktu 3 hari mereka dipaksa melakukan konsulidasi politik dan harus selesai. Semula pilihan mereka adalah mendukung Ahok atau melawannya bersama PDIP. Tapi setelah PDIP secara resmi mengusung Ahok-Djarot, maka mereka kelimpungan karena hanya punya pilihan harus melawan. Itupun mereka hanya punya waktu 3 hari. Apa ga kelimpungan? Lihatlah betapa cerdasnya Megawati membuat semua partai kebingungan.


Cagub Cawagub mentah yang dipaksakan

Ahok sudah memainkan politik sejak setahun yang lalu dengan Teman Ahok. Dia jelas memiliki suara dukungan dan banyak rencana. Strategi sangat matang. Tidak percaya? Tak masalah. Minimal kita harus sepakat bahwa Ahok satu-satunya kandidat yang sadar akan bertarung di Pilgub DKI. Sementara lawannya adalah orang-orang baru yang sampai dua hari lalu masih belum memiliki kepastian apakah akan maju di Pilgub atau tidak.

Gara-gara strategi injury time Megawati, Koalisi Mantan akhirnya menghasilkan Agus Harimurti dan Sylviana Murni. Sementara Koalisi Hambalang, mengerucut pada Sandiaga, Anies dan Mardani. Selain Anies Baswedan yang pernah jadi menteri, siapa yang kenal sisanya? Saya jamin 80% warga tidak kenal.

Dua pasang calon merupakan nama-nama mentah belum siap saji yang coba dipaksakan melawan Ahok-Djarot. Ibarat mie instan diolah dengan air dingin karena tidak sempat membuat air panas. Bagaimana rasanya? Seperti itulah Agus Harimurti, Sylviana, Sandiaga, Anies dan Mardani.

Dan semua kekacauan ini adalah berkat strategi politik Megawati. Semuanya dibuat kelimpungan, kejang-kejang dan yang sesapian dengannya.


Gengsi SBY Prabowo

Banyak yang bertanya-tanya mengapa Gerindra tidak bergabung dengan Demokrat? Sementara mereka akan melawan calon kuat Ahok Djarot. Menurut kacamata Pakar Mantan, ini soal masa lalu yang masih belum bisa dilupakan.

Pada Pilpres 2014 lalu banyak yang penasaran mengapa Demokrat tidak bergabung dengan Gerindra? Padahal Hatta Rajasa besannya sedang bertarung menjadi Calon Wakil Presiden menggandeng Prabowo. Jawabannya karena SBY gengsi. SBY pernah dipukuli oleh Prabowo, ini karena SBY ember memberi tahu Prabowo kabur dari camp Akabri. Saat itu Prabowo dihukum oleh Gubernur Akabri, Jenderal Sarwo Edhie Wibowo, yang merupakan ayah Ani Yudhoyono.

“Ini background kenapa nggak mungkin SBY ke sana meskipun kemudian besannya di sana, akhirnya dia dukung tapi nggak terang-terangan. Ini masalah gengsi. Dulu digebukin kok sekarang dukung,” tandas Hermawan Sulistyo mantan Ketua Tim Investigasi TGPF (Tim Investigasi Pencari Fakta) Kerusuhan Mei 1998.

Jadi kalau sekarang Demokrat belum mau berkoalisi dengan Gerindra, sebenarnya bukan hal luar biasa. Jangankan hanya alasan kuatnya seorang Ahok, besannya ikut Pilpres pun SBY tak mau merapat ke Prabowo.

Inilah kenapa sempat ada ultimatum memberi waktu pada PKS Gerindra untuk merapat sebelum jam 23:00 semalam. Semuanya karena gengsi. Prabowo gengsi mau merapat ke partai gurem Demokrat, sementara SBY gengsi mau merapat ke Gerindra karena dulu pernah digebuki. Alhasil mereka kini mengusung calon sendiri-sendiri.

Faktor gengsi tersebut sangat dipahami oleh Megawati. Beliau paham SBY dan Prabowo tak akan berkoalisi. Inilah kenapa partai-partai menunggu PDIP. Prabowo bersedia rujuk dengan Megawati asal tidak mendukung Ahok, mantan kadernya. Sementara SBY dalam posisi wait and see, jika PDIP mengusung Risma maka otomatis Demokrat merapat ke Ahok. Tapi malah tidak dua-duanya. Kemudian SBY dan Prabowo tetap dengan gengsinya masing-masing. Megawati sudah hampir pasti menang dengan Ahok-Djarot, inipun disadari oleh Prabowo dan SBY. Tapi Pilgub DKI bukan hanya soal menang kalah, ini soal gengsi. Ahok silahkan menang, tapi perseteruan gengsi Prabowo SBY akan terus berlanjut. Ini mirip seperti Marquez yang sudah jauh di depan, sementara Rossi dan Lorenzo malah saling pepet di belakang karena memperebutkan posisi dua.

Begitulah kura-kura.

Dikutip dari Seword

G+

APA KOMENTAR ANDA?
BERITA MENARIK
loading...
BERITA TERBARU
    Loading...