Jokowi dan Sikap Dinginnya Dalam Berpolitik

Foto: Jokowi dan Sikap Dinginnya Dalam Berpolitik


Sejak sepeninggal Sukarno, semua presiden harus dari militer yang gagah perkasa atau keturunan darah biru. Baru dia yang mulai dari pinggir kali, digusur sana-sini, usaha sendiri sampai mandiri, dan nasib mengantarkan dia ke istana. Bukan karena harta atau citra, tapi karena kerja dan sebuah kejujuran yang tertanam sejak kecil.

Salah satu hal yang saya kagumi dari Presiden Jokowi adalah sikap dinginnya. Dengan tenangnya ia mengatakan tidak akan menuntut siapapun yang mencatut namanya dalam kasus Freeport dan menyerahkan semuanya kepada Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) DPR RI untuk prosesnya. Jokowi sepertinya memang ingin menghindari keributan tidak perlu selama ia konsentrasi mendatangkan investasi-investasi asing untuk proyek-proyek infrastrukturnya.

Langkah menghindari keributan ini terlihat ketika ia menyelesaikan kasus KPK vs Polri, yang semakin lama semakin dibesarkan skalanya oleh para pemain politik dan media. Ia harus memberhentikan langkah Abraham Samad dan Bambang W yang terus menjadi sasaran tembak.

Jokowi tidak mengangkat Budi Gunawan sebagai Kapolri untuk menghindarkan keributan baru. Dan dengan dinginnya juga memindahkan Budi Waseso yang selalu berisik dalam mengerjakan tugasnya.

Langkah Jokowi untuk tidak terjebak dalam kisruh itu sangat tepat. Ia melokalisir keributan itu supaya tidak pecah keluar. Biarkan ribut di dewan, jangan berkelahi di lapangan, nanti di tonton banyak orang. Orang luar akan mengira Indonesia tidak aman jika setiap hari media terus menerus membesarkan skalanya.

Jika kemudian MKD DPR RI memutuskan Setya Novanto tidak bersalah, biarkan masyarakat yang menilai. Toh situasi ini sudah menghancurkan nama baiknya sendiri. Dengan begitu akan terlihat jelas, siapa yang bekerja dan siapa yang tidak. Ini situasi yang menguntungkan yang akan menambah poin menuju pilpres 2019 nanti.

Bukan karena ia gila jabatan, tetapi supaya arah pembangunan lebih jelas dan panjang. Bayangkan, jika 5 tahun dibangun dan 5 tahun kemudian di hancurkan. Model politik sehat yang dimainkan Jokowi memang angin segar pembawa perubahan. Ia tidak ribut dengan slogan Revolusi Mental tanpa menunjukkan cara yang benar. Ia melakukannya.

Panjang memang perjalanan kita menuju ke arah yang benar karena masih banyak badut-badut politik yang jumpalitan. Dan mereka bukan orang sembarangan.

Apakah dengan demikian Setya Novanto akhirnya lolos dari hukum? Ciri khas Jokowi ini langkahnya selalu panjang, memutar dan tidak kelihatan. Lihat saja, ada pada satu momen dimana lawannya tidak merasa bahwa ia dihajar. Ia dirangkul, diajak tertawa sambil makan, dan tanpa sadar ia mati pelan-pelan.

Dengan terbukanya siapa Setya Novanto ke publik, lalu siapa lagi yang ingin bernegosiasi dengannya? Itu saja sudah hantaman yang cukup telak. Kartu mati. Analogi kodok yang tidak sadar bahwa ia direbus sampai matang di dalam panci seperti yang digambarkan Ahok tentang dinginnya Jokowi memperlihatkan kemampuan politik yang lihai.

Dan ia juga didampingi orang-orang yang lihai disampingnya. Masih banyak kodok di dalam panci yang mesti direbus pelan-pelan. Harus diciptakan peristiwa-peristiwa supaya mereka muncul di permukaan. Biarkan mereka terus mengorek, lama-lama juga terdiam.

Lihat bagaimana beliau dengan cepat memecat Arcandra Tahar dari Menteri ESDM secara hormat. Dua hari sebelum Jokowi menyampaikan laporan di sidang tahunan MPR RI, beliau mengambil suatu sikap yang sangat dahsyat. Dia sudah membaca situasi bahwa jika dia tidak mengikuti kata hatinya dan para lawan politiknya, maka dimasa sidang tahunan MPR RI dia akan dimakan hidup-hidup.

Hasilnya?

Ketua DPR RI, Ade Komaruddin memuji setinggi langit atas keputusan Presiden Jokowi memecat Arcandra Tahar secara hormat dari kursi Menteri ESDM yang merupakan juga KURSI yang paling panas sejagat.

G+

APA KOMENTAR ANDA?
BERITA MENARIK
loading...
BERITA TERBARU
    Loading...