Firman Jaya Daeli: Putra Nias Yang Selalu Bekerja Keras

Foto: Firman Jaya Daeli | indoNias.com


Mantan anggota DPR-RI dan MPR-RI ini dikenal sebagai politisi senior PDI Perjuangan yang terlibat aktif merumuskan UU KPK. Dia pula yang memperjuangkan pembentukan Pengadilan HAM Ad Hoc untuk kasus Trisakti, Semanggi 1 dan Semanggi 2. Dialah sosok yang dikenal sebagai Firman Jaya Daeli.

Konsistensi Firman sudah diakui banyak kalangan, dan pernah ditulis oleh seorang aktivis perempuan/pengamat politik hukum/advokad senior dalam sebuah buku mengenai Presiden RI ke-5, Megawati Soekarnoputri. Dalam buku tersebut disinggung mengenai kiprah Firman yang pada awal reformasi konsisten bersuara agar kuota 30% perempuan dimuat dalam UU Pemilu. Profil Firman pun pernah dimuat di Harian Media Indonesia, sebuah surat kabar terkemuka di tanah air.

Meski Firman kini sedang tidak menjadi anggota DPR-RI, namun kekuatan jaringan, akses, dan pengaruhnya masih terasa. Dia tak pernah henti memperhatikan nasib rakyat. Perjuangannya malah semakin gigih, bermakna, dan meluas dengan berinisiatif dan berperan aktif di berbagai waktu dan tempat, antara lain dengan menjadi Penasihat Badan Persiapan Pembentukan Provinsi Kepulauan Nias.

Beberapa waktu lalu, bersama sejumlah tokoh masyarakat Nias, Firman menemui Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo untuk membicarakan berbagai persoalan utama sekaligus mencari solusi strategis. Dalam pertemuan tersebut, Mendagri memahami betul aspirasi masyarakat Nias dan menilai positif rencana pembentukan Provinsi Kepulauan Nias. Tak heran bila Mendagri lantas bersedia hadir dan menjadi pembicara dalam sebuah seminar dan munas salah satu ormas Nias di Jakarta.

Pembentukan Provinsi Kepulauan Nias memang sudah harga mati. Dengan menjadi Daerah Otonom Baru (Provinsi) yang mekar dari Provinsi Sumatera Utara, masyarakat Kepulauan Nias dapat lebih optimal dan efektif dalam melakukan pembangunan karena merekalah yang lebih memahami persoalan, kebutuhan, dan tantangan di wilayahnya. “Hal itu sejalan dengan pemikiran Mendagri mengenai penguatan kualitas otonomi daerah untuk memajukan kesejahteraan masyarakat,” tutur Firman.

Politisi kelahiran 14 Desember ini berpendapat, selain membawa Kepulauan Nias ke level provinsi, solusi penting lainnya bagi kemajuan masyarakat di sana adalah pembangunan infrastruktur menyeluruh, terintegrasi, dan berkelanjutan yang akan mendorong kelancaran transportasi. Selain itu, menumbuhkan perekonomian melalui perkembangan pariwisata, pertanian, perkebunan, peternakan, perikanan, kelautan, perindustrian, perdagangan, energi, dll. Itu sebabnya, dalam beberapa kali pertemuan dengan Menteri PU & PR Basuki Hadimulyono, Firman selalu mengingatkan sahabat lamanya itu untuk membangun infrastruktur Kepulauan Nias.

Pada bulan November s/d Desember 2015 kemarin, Firman sempat berkeliling Kepulauan Nias sembari menemui masyarakat. Baginya, sebagai orang lapangan yang berlatar belakang aktivis, memajukan masyarakat berarti mengunjungi masyarakat untuk mendengar langsung aspirasi mereka. Hasil berhubungan langsung dan bersahabat dengan berbagai macam lapisan masyarakat pada gilirannya mengkondisikan Firman untuk memahami teori sekaligus praktek. Dia mampu memetakan kenyataan lapangan dan mengerti arah kecenderungan yang sedang terjadi.

Untuk mendukung tugas, pekerjaan, dan kegiatan-kegiatan lain, Firman banyak membaca buku-buku yang relevan. “Sejak kecil saya memang suka membaca, sudah lama tumbuh tradisi membaca,” ujarnya. Tak heran jika saat ini koleksi buku bacaannya memenuhi ruang kerja bahkan hingga ke ruang-ruang lain. Dalam sehari dia bisa menghabiskan waktu lima jam untuk membaca. Memang tidak terus-terusan selama lima jam, tetapi itulah total waktu yang biasa dihabiskan dalam sehari untuk membaca.

Hukum dan Politik

Bicara soal cita-cita, Firman yang sejak SD sampai SMA menempuh pendidikan di Kepulauan Nias ini mengaku menggandrungi bidang hukum dan politik. Itu sebabnya setamat SMA, dia memilih bidang hukum sebagai pilihan pertama, disusul jurusan Hubungan Internasional sebagai pilihan kedua. Beberapa tahun setelah menyelesaikan studi ilmu hukum di Yogyakarta, dia melanjutkan studi di Program Pascasarjana (S2) Universitas Indonesia (UI) pada tahun 1996. Di sana dia seangkatan dengan Prof. Dr. Anna Erliyana, SH, MH (Guru Besar FH. UI), Dr. Frans Hendra Winarta, SH, MH (Advokad Senior), dll.

Masa-masa kuliah, terutama selama di Yogyakarta, dimanfaatkan untuk aktif dalam berbagai organisasi mahasiswa, kepemudaan, dan kemasyarakatan. Kemauan untuk berteman dan bergaul, kemampuan berorganisasi, dan jiwa kepemimpinannya membuat dia dipercaya menjadi Ketua Senat Mahasiswa (semacam Ketua BEM), kemudian menjadi salah seorang Ketua Presidium Forum Komunikasi Mahasiswa Yogyakarta (FKMY) - sebuah elemen mahasiswa yang berkembang sebagai pergerakan mahasiswa yang melakukan pendampingan dan pembelaan untuk rakyat.

Firman juga pernah menjabat Sekretaris dan Wakil Ketua Perhimpunan Mahasiswa Hukum Indonesia. Beberapa kali menjadi Pejabat Sementara (Pjs) Ketua GMKI Yogyakarta sampai menjadi Koordinator Wilayah Pengurus Pusat (PP) GMKI di Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Lalu berlanjut menjadi Ketua PP GMKI sampai maju sebagai Calon Ketua Umum PP GMKI di Kongres Nasional di Ambon-Maluku. Jabatan Presidium Forum Mahasiswa Pasca Sarjana Universitas Indonesia (UI) atau disebut Forum Wacana UI pernah dilakoninya pula bersama Laode Ida (mantan Wakil Ketua DPD-RI), Effendi Gazali (Pengamat Komunikasi Politik), M. Fadjroel Rahman (aktivis Civil Society), dll. Forum Wacana UI ini merupakan salah satu forum yang aktif menggerakkan dan mengorganisasikan gerakan reformasi sejak 1997.

Tak berhenti sampai di situ. Firman terus menempa diri di berbagai organisasi. Tercatat dia pernah menjadi Wakil Ketua Majelis Pemuda Indonesia (MPI) KNPI tingkat nasional - semacam Dewan Pembina/Penasehat DPP KNPI. Saat itu Ketua MPI KNPI adalah Adhyaksa (mantan Menpora) dengan anggota antara lain Hamdan Zoelva (mantan Ketua MK-RI), Ferry Mursyidan Baldan (Menteri Agraria & Tata Ruang), Teras Narang (mantan Gubernur Kalteng). Firman pernah pula menjadi Dewan Pertimbangan Komite Independen Pemantau Pemilu Tingkat Nasional bersama sejumlah tokoh, seperti Gus Dur, Prof.Dr. Nurcholish Madjid (Alm), Pdt.Dr. SAE Nababan, dan Goenawan Mohamad. Bersama Asmara Nababan (Alm) dan Munir (Alm), dia pernah pula aktif dalam Badan Penasehat Ikatan Keluarga Orang Hilang (IKOHI).

“Ketika saya kuliah S1 dan S2, perpolitikan Indonesia memang sedang mengalami proses perubahan yang mengarah kepada reformasi menyeluruh dan pergantian kepemimpinan nasional. Pada situasi seperti itulah, saya bergabung dengan PDI Perjuangan di tahun 1998,” tuturnya.

Di PDI Perjuangan, dia menjadi Direktur Pengkajian Pembangunan Politik Dalam Negeri & Otonomi Daerah sekaligus merupakan fungsionaris dan kader termuda yang masuk dalam kepengurusan Balitbang Pusat dengan Kwik Kian Gie sebagai Ketua. Kawan-kawan seangkatannya antara lain Tjahjo Kumolo (kini Mendagri), Sonny Keraf (mantan Menteri Lingkungan Hidup), M. Prakosa (mantan Menteri Pertanian dan Kehutanan), Benny Pasaribu (mantan Deputi Menteri BUMN), dll.

Setelah itu, Firman dipilih dan dipercaya oleh Ketua Umum DPP PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri menjadi salah seorang Ketua DPP PDI Perjuangan, dengan Sekjen Pramono Anung W. Lalu menjadi Wakil Ketua Badan Pemenangan Pemilu DPP PDI Perjuangan dengan Ketua Tjahjo Kumolo, dan para Wakil Ketua antara lain Puan Maharani, Dr. Sutradara Gintings, Mayjen TNI (Purn) Adang Ruchiatna.

Saat terpilih menjadi anggota DPR-RI dan MPR-RI, Firman merupakan anggota termuda dari Fraksi PDI Perjuangan. Bahkan dari seluruh anggota DPR-RI dan MPR-RI saat itu hanya dua orang yang lebih muda dari Firman yaitu dari Fraksi PG dan Fraksi PKB. Firman langsung menjadi salah seorang Pimpinan Fraksi PDI Perjuangan yang mengkoordinasikan Bidang Polhukam dan Legislasi di DPR-RI.

Selama menjadi wakil rakyat, banyak hal berkesan antara lain saat terjadi perdebatan politis dan ideologis serta pembahasan hal-hal strategis di Komisi, Pansus, dan Badan Legislasi. Di saat perdebatan dan pembahasan menemui jalan buntu, beberapa pemikiran Firman sering dijadikan bahan diskusi untuk mencari solusi. Lalu Firman juga sering ditunjuk menjadi ketua kelompok, floor leader, serta juru bicara fraksi/partai.

Dia kerap diundang sebagai penceramah dan pembicara/narasumber dalam berbagai seminar, forum strategis dan pertemuan studi, seperti seminar dan diskusi terbatas di Lemhanas RI, Sekolah Staf dan Pimpinan (Sespim) Polri. Saat diundang sebagai pembicara di Lemhanas, Firman tampil bersama Prof. Dr. Muladi (Gubernur Lemhanas), Prof. Dr. Hikmahanto (Gurubesar UI), dan Lukman Hakim Saefuddin (Menteri Agama sekarang). Forum ini mendiskusikan mengenai otonomi daerah, sistem hukum, dan keamanan nasional.

Firman termasuk salah seorang anggota DPR-RI yang sering mengunjungi berbagai wilayah di tanah air, terutama Sumut dan Kepulauan Nias untuk bertemu konstituen. Ketika menjadi anggota DPR-RI, dia berhasil mengajak hampir sepuluh orang Menteri Kabinet Gotong Royong ke Kepulauan Nias. Tak heran pada Pemilu 2004, hampir seluruh DPC PDI Perjuangan Kabupaten/Kota se-Sumatera Utara mendukungnya untuk dicalonkan sebagai Caleg DPR-RI dari Dapil manapun di Sumut.

Dalam Pemilu 2004 itu, Firman merupakan Caleg DPR-RI di internal PDI Perjuangan yang meraih suara terbanyak di Dapil Sumut 2 (meliputi antara lain Kepulauan Nias), bahkan dia merupakan caleg peraih suara terbanyak kedua dari keseluruhan caleg dari semua Parpol Peserta Pemilu di Dapil Sumut 2. “Itu semua karena Kasih Kuasa Tuhan dan dukungan rakyat,” katanya.

Firman pernah beberapa kali ikut terlibat melakukan Fit and Proper Test bagi calon pejabat tinggi negara seperti Pimpinan KPK, Kapolri, Hakim MA, Hakim MK, Komisioner KPU, Komisioner Komnas HAM, dll. Dia juga kerap mewakili DPR-RI dalam kegiatan di dalam maupun luar negeri, antara lain memimpin Delegasi Parlemen RI dalam Pertemuan Parlemen Asia Eropa di Portugal, serta mewakili Parlemen RI berdiskusi dengan sejumlah institusi dan kelompok strategis di Amerika Serikat dan Jepang. Pada akhir tahun 2014 s/d awal tahun 2015, dia sempat berkunjung ke beberapa negara Eropa untuk berdiskusi dengan sejumlah duta besar dan Kelompok-kelompok strategis sembari membahas beberapa hal mengenai Indonesia pasca Pileg dan Pilpres 2014.

Firman yang merupakan Senior Advisor (Penasihat Senior) di beberapa kantor hukum (law firm) dan komisaris di beberapa perusahaan ini pernah pula menjadi anggota inti Tim Perumus di Pansus/Panja DPR-RI saat merumuskan UU KPK, UU Kepolisian, UU Kejaksaan, UU Pertahanan Negara, UU TNI, UU Pengadilan HAM, UU Pemerintahan Daerah (UU 32/2004), dan lain-lain. Dia pula salah seorang inisiator untuk RUU Kementerian Negara, RUU Penghapusan KDRT, dan RUU Penghapusan Diskriminasi. Selain itu, dia pernah terlibat dalam Tim Perumus Paket UU Lembaga Hukum di Pansus/Panja DPR-RI, misalnya UU Mahkamah Agung, UU Mahkamah Konstitusi, UU Komisi Yudisial, UU Kehakiman.

Aktif dalam Tim Sukses Jokowi-JK

Dengan segudang pengalaman dan jaringan koneksi yang luas, tak heran bila Firman Jaya Daely akhirnya dipercaya menjadi bagian dari tim sukses pemenangan tokoh-tokoh ternama tanah air, termasuk pasangan Jokowi-Ahok ketika maju dalam Pilkada DKI Jakarta. Jokowi dikenalnya sejak masih menjadi Walikota Solo, sedangkan Ahok dikenal sejak awal dekade 2000-an. Sebelum maju dalam Pilkada DKI Jakarta, Ahok pernah mendaftar di partai sebagai bakal calon Gubernur Sumut, dan Firman menjadi salah seorang yang melakukan fit and proper test terhadap Ahok. Saat itu, Ahok mendaftar bersama Rudolf Pardede, Syamsul Arifin, Tritamtomo, Benny Pasaribu, Chairuman Harahap, dan lain-lain.

Bersama sejumlah masyarakat Nias di Jakarta, Firman pernah mengundang Jokowi untuk berkenalan dan berdiskusi sekaligus menyampaikan visi, misi, dan program kerja sebagai Calon Gubernur DKI Jakarta. Dan Jokowi selalu mengingat dukungan masyarakat Nias tersebut, sehingga ketika Firman mengajak sejumlah masyarakat Nias di Jakarta untuk berdiskusi dengan Jokowi, saat itu juga Jokowi langsung menerima.

Firman juga masuk dalam Tim Kampanye Nasional Pemenangan Joko Widodo-Jusuf Kalla (Pilpres). Sejak awal, Firman mendukung sepenuhnya pencalonan dan pemenangan Jokowi menjadi Presiden. Tak sekedar masuk dalam Tim Pemenangan, tetapi sangat aktif mengorganisasikan pembelaan dan pemenangan Jokowi-JK di berbagai tempat dan forum. “Salah satu yang berkesan selama Pilpres 2014 adalah ketika saya bersama Tim Jokowi-JK menyampaikan Visi, Misi, dan Program Jokowi-JK di hadapan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) se-Universitas Indonesia dan beberapa Guru Besar UI,” kenangnya.

Firman menuturkan, saat itu sesungguhnya yang diundang adalah Jokowi-JK dan Prabowo-Hatta selaku Capres/Cawapres. Namun kedua pasangan tersebut tak bisa hadir karena ada agenda lain. Akhirnya disepakati bahwa Dr. Todung Mulya Lubis, SH, LLM akan mewakili Jokowi-JK. Tetapi rupanya ada juga acara yang sama di Kampus ITB, sehingga disepakati bahwa Todung Mulya Lubis mewakili Jokowi-JK di ITB dan Firman dkk yang mewakili Jokowi-JK di UI.

“Saya dihubungi ketika masih di luar kota karena sedang menjadi pembicara juga dari Tim Jokowi-JK. Dengan waktu yang sangat mepet, saya segera balik ke Jakarta. Tadinya saya mengira diskusi di UI bersifat tertutup dan terbatas serta para pembicara dari Tim Prabowo-Hatta mungkin berasal dari kalangan baru. Nyatanya, diskusinya terbuka, dihadiri banyak mahasiwa dan dosen UI. Dan para pembicara dari Tim Prabowo/Hatta, antara lain Prof. Dr. Marwah Daud Ibrahim, MA, serta Mayjen TNI (Purn) Kivlan Zein,” ujarnya.

Itulah sepenggal periode dari kehidupan Firman Jaya Daeli yang dipenuhi beragam aktifitas sosial dan kesibukan kerja. Sampai saat ini pun Firman senantiasa diundang sebagai pembicara, panelis, dan narasumber di berbagai forum pertemuan, seminar, kuliah umum, diklat, serta menjadi narasumber dalam berbagai diskusi dan dialog di televisi dan radio. Entah bagaimana cara dia membagi waktu. Yang jelas, dia tidak pernah merasa lelah untuk membangun negeri ini melalui sumbangsih pemikiran, serta terus berjuang dan berbuat untuk Tano Niha tercinta.


indoNias.com


G+

APA KOMENTAR ANDA?
BERITA MENARIK
loading...
BERITA TERBARU
    Loading...