Kisah Nyata : Selamat Setelah 11 Jam Mengapung diatas Samudera

Kisah Nyata : Selamat Setelah 11 Jam Mengapung diatas Samudera

Sore itu jam 16.00 WIB, cuaca sangat cerah, kami (Pdt. Saron Marundruri, Pdt. Herman Baeha, Pdt. Budieli Hia) dan 2 orang Anak Buah Perahu, berangkat dari pelabuhan Hinako, Pulau Tello. Setelah perjalanan kira-kira 5 menit, kami berhenti di suatu tempat yg disebut GOSONG BÖGI dekat Pulau Bögi. 

Kami mulai memasang umpan untuk memancing. Tiba-tiba cuaca berubah, Angin ribut datang menyerang. Gelombang besar menerpa perahu kami, akhirnya perahu kamipun tenggelam.
Kami mengumpulkan papan tempat duduk di perahu, dan jerigen. Saya dan Pdt. Saron memiliki 4 potong papan yg panjangnya kira-kira 1m dan Pdt. Herman Baeha kebagian Jerigen yg besarnya kira-kira 10 liter. Saat itu kami berdoa dan saling menguatkan satu sama lain. Kami berunding untuk berenang ke pulau terdekat yaitu Pulau Langu. 

Pdt. Saron ke depan, baru saya dan kemudian Pdt. Herman. Kedua ABK setelah membantu kami dengan memberikan papan dan jerigen tadi, mereka berenang.

Pdt. Saron saya lihat dia semakin dekat dengan daratan dan Pdt. Herman masih tertinggal jauh kebelakang. Saya berusa untuk bisa semakin dekat dengan daratan, namun tiba-tiba cuaca semakin buruk dan gelombang besar menghempaskan saya. Saya tidak dapat melihat mereka lagi. Cuaca semakin ekstrim, air laut sebagian  masuk ke mulut saya. Saat itu saya pasrah. Kondisi saya mulai lemah, saya mual dan muntah. Saya mulai kehilangan pengharapan.


Pendeta Budieli Hia

Saat itu saya mulai membayangkan bahwa saya akan mati. Saya berseru dan berdoa. Tuhan Yesus, ke dalam tangan-MU kuserahkan nyawaku. Saya memohon lagi...Tuhan...kalaulah saya mati, biarlah Tuhan Yesus menjemput saya saat ini. Janganlah saya mengalami kematian yang penuh kesakitan. Saat itu saya membayangkan betapa sakitnya jika air laut masuk ke dalam mulutku. Saya juga memohon kepada Tuhan Yesus... Tuhan, kalau saya sudah mati, biarlah mayat saya cepat ditemukan.
Saat itu dunia gelap gulita, saya tidak bisa melihat pulau-pulau yang ada di dekat itu. Saya bisa melihat mercusuar di Pulau Hinako, tapi itu sangat jauh. Saya pasrah menunggu ajal tiba. Saya kembali muntah.

Gelombang dan arus laut menyeret dan menghempaskan saya kesana-kemari. Saat itu wajah-wajah orang yang saya kasihi terbayang-bayang. Saya berbicara sendiri...Vi, maafkan abang, ya..relakan kepergian abang. Maaf kan Budi ya ma, maafkan Budi ya bang...semua orang yang saya kasih terbayang di mata saya. Saya bayangkan betapa mereka sangat sedih. Saya terus berdoa, dan bernyanyi.

Setelah beberapa saat, saya ingat saya sedang memakai topi Sidang Raya. Saya ingat Tema Sidang Raya dan kekuatan dan harapan saya mulai muncul. Tuhan pasti mengangkat saya dari samudera raya. Saya menaikkan pujian PADA KAKI SALIBMU YESUS KU BERLINDUNG, ...dst.. harapan untuk hidup kembali muncul. Cuaca juga semakin baik. Saya berdoa...Tuhan Yesus, saya tahu ada banyak kelemahan saya dalam melayani-MU. Namun, saat ini saya ingat masih banyak tugas dan tanggungjawab saya...saya teringat Pelaksanaan Raker Pendeta ONKP dimana saya sebagai koodinator Seksi Persidangan. Saya ingat Sinode ONKP tahun 2017 dimana saya sebagai SC, juga jemaat yang saya layani. Saya juga teringat pelayanan di MPG PGI. Saya bernazar...Tuhan Yesus, jika Engkau memberikan saya kesempatan kedua untuk melanjutkan kehidupan, saya akan melayani-MU dengan sungguh-sungguh. Saya tidak akan meninggalkan pelayanan, karena selama ini kadang saya terpikir untuk meninggalkan jabatan sebagai pendeta.

Ketika saya membuka mata, saya melihat cahaya listrik, saya kira itu kapal yang sedang berlabuh. Saya bandingkan jarak terdekat antara Mercusuar dan Cahaya listrik itu. Saya buat keputusan...saya harus sampai ke cahaya listrik itu karena lebih dekat. Saya memohon...Tuhan Yesus, saya mohon, kirimkan saya gelombang yang bisa membantu saya mencapai cahaya listrik itu. Kekuatan saya muncul kembali. Saya berdoa, memuji Tuhan, saya mengucapkan Pengakuan Iman Rasuli dan Doa Bapa Kami. Saya yerus bernyanyi....saya merasakan gelombang datang dari belakang saya dan membantu saya mengarahkan diri menuju cahaya tadi. Cahaya itu semakin jelas dan saya tahu bahwa itu adalah cahaya listrik di rumah, saya tahu bahwa itu adalah Pulau. Saya sempat tergoda untuk membuang papan saya dan mencoba untuk berenang supaya lebih cepat. Namun hati saya juga mengatakan bahwa itu masih jauh dan tidak mungkin saya bisa sampai kesana. Saya berdoa... Tuhan Yesus, saya mulai lemah, saya mohon kekuatan dari pada-MU. Tolonglah saya agar bisa sampai di pulau itu.

Saya berusaha mendorong dengan kaki saya, ditambah dengan arus laut yang membantu saya, saya semakin dekat. Namun, saya merasa mulai lemah. Saya terus berdoa dan memohon kekuatan dari Tuhan Yesus. Arus laut datang dari samping. Saya terdorong ke samping pulau dan akan mengarah ke laut bebas. Walau semakin dekat dengn daratan, nanun saya semakin terhempas kesamping, dan tidak bisa lagi menjangkau ke arah yang ada listrik itu. Dengan sisa-sisa tenaga, saya mencoba mendorong dan menggerakkan kaki saya sehinggga akhirnya saya sampai di tempat yang ada batu-batu. Saat saya menginjakkan kaki di Batu pertama, saya memuji Tuhan. Sambil mengikuti dan menggunakan gelombang, saya menjangkau batu cadas demi batu cadas yang sangat tajam. Namun puji Tuhan, saya tidak tergores sedikitpun.

Saat saya berdiri di pantai, saya oyong...saya terus menguatkan diri saya agar bisa berjalan ke arah listrik itu. Saya tidak mau pingsan di antara batu-batu cadas itu. Saya takut nanti gelombang besar bisa menghempaskan dan membanting saya di batu itu...akhirnya saya sampai di depan rumah itu.
Tiba-tiba, 2 ekor anjing datang menyalak dan mendekati saya, saya bilang...Tuhan, di laut dan batu karang saya tidak terluka, di darat saya akan dicabik-cabik 2 ekor anjing...
Puji Tuhan, anjingnya hanya menggonggong saja. 

Saya teriak dengan keras dan memanggil yang empunya rumah. Tolong....perahu kami sudah tenggelam..mereka membuka pintu..saya bilang...SAYA Pdt. Budi, ini pulau apa..,mereka bilang..ini Pulau Asu...saya bilang... ini rumah siapa...ini rumah A. Selfi... saya memeluk mereka dan menangis dengan keras...saya tidak bisa lagi berdiri, saya tidur di atas lantai. Saya tanya..ini jam berapa...jam 3.10 wib subuh....

Saya tidak percaya, saya kira itu masih pukul 21.00 atau 22.00....
Sungguh....Tuhan telah mengangkat saya dari samudera raya.

Terimakasih atas dukungan doa.

Pdt. Budieli Hia
Salah satu orang selamat dari Perahu Rombongan Pendeta Tenggelam Dihantam Badai di Nias


G+

APA KOMENTAR ANDA?
BERITA MENARIK
loading...
BERITA TERBARU
    Loading...