Jokowi : Keterbukaan dan Kompetisi

Sekarang era persaingan. Semua negara pada posisi tertekan. Bukan saja tertekan dari internal tapi juga eksternal. Perubahan satu negara akan berdampak ke negara lain. Misalnya, referendum UK untuk keluar atau tidak dari EU itu saja sudah membuat goncang. Jadi bukan saja pengaruh antar negara tapi juga pengaruh kawasan.

Presiden RI Joko Widodo

Intinya : Keterbukaan dan Kompetisi

Ada blok Cina dengan RCEP  dan ada blok Amerika dengan TPP-nya. Kita harus ikut semua blok. Bisa saja kita tidak ikut tapi perdagangan kita dipajaki 20 persen. Kalau saya tidak ragu-ragu. Masuk semua. Hal ini dikatakan Jokowi pada pertemuan Pejabat Eseloan II di Gedung Dhanapala, Jakarta, 07 Juni 2016.
  • Kita masuk asean economic comunity. Di gambar kita memang gandeng-gandeng. Tapi mereka juga kompetiror kita.
  • Indeks daya saing global kita di bawah Singapur, Thailand, Vietnam dan lain-lain. Padahal kita negara besar. Peringkat kita di ease of doing business 109. Vietnam saja 90. Kunci ini ada di bapak ibu. Tidak ada yang lain. Di perijinan terutama.
  • Saudara dikumpulkan karena saudara-saudara adalah kunci. Baik daya saing maupun ease of doing business.
  • Percuma kebijakan kita buat tapi kalau implementasi tidak dilakukan oleh direktur-direktur dan oleh para asdep. Tidak akan terlaksana.
  • Misalnya SIUPP. Saya pernah datangi kantor yang buat SIUPP. Kenapa harus selesai berhari-hari. Ada yng salah. Maka, saya datang. Coba saya mau minta izin, ini syaratnya. Saya tanya, Berapa hari? Seminggu. Kalau cepet 3 hari. Maka saya coba minta ketikkan SIUPP. Cuma satu lembar. Isinya cuma nama perusahaaan, alamat, pemilik dan sebagainya. Ternyata, selesai hanya dua menit. Kenapa tidak bisa langsung diberikan? Kenapa kita tidak percepat pelayanan itu. Saya minta yang seperti ini dikontrol bapak ibu. Buktikan bahwa sebenarnya kita bisa cepat. Hanya dua menit kenapa berhari-hari. Tapi dijawab petugas, " Yang lama yang di lantai 3 Pak." Siapa? "Pak Kepala. Kan surat itu ada yang tandatangan." Lha, tanda tangan kan hanya satu detik. Kenapa harus berhari. Ini yang harus dikontrol.
  • Ini yang harus diubah kalau mau ease of doing business kita bagus. Saya targetkan di indeks 40. Kerja memang harus begitu. Kalau tida, kita ditinggal negara-negara lain.
Ada beberapa poin yang menurut Jokowi harus sesegera dilakukan, antara lain:
  • Jangan buat banyak program. Dulu di DKI ada 50 ribu Item. Bagaimana kontrolnya? Bagi saya, cukup 2 dan 3 tapi berkualitas.
  • Dalam program, hindarkan kata-kata bersayap yang terlalu banyak.
  • Tiadakan perda yang bermasalah.
  • Stop membuat regulasi


G+

APA KOMENTAR ANDA?
BERITA MENARIK
loading...
BERITA TERBARU
    Loading...