Ahok, Teman Ahok, dan (Mantan) Teman-Temannya

Foto : Ahok
Meski pemberitaan tentang Ahok tak pernah surut, tapi secara substantif Ahok sebenarnya sudah mati kutu, kehabisan langkah, dan sedikit terlihat mulai hilang akal terkait cara-cara baru untuk menyerbu otak publik. Rumus yang dipakai masih yang itu-itu saja. Jika tidak kontroversi, maka bukan Ahok. Jika tidak marah-marah, maka bukan Ahok. Jika tidak "bermulut ember" dan terkadang "berbau comberan", maka bukan Ahok. Semua gaya yang sejenis dengan hal tersebut nyaris sudah punya Ahok, kepemilikannya juga nyaris seribu persen, tidak ada yang lain dan tidak ada duanya, hanya Ahok yang mahir di ranah tersebut.
Dan tak terasa, sudah cukup lama Jakarta ada di bawah gaya semacam ini. Saya pribadi sudah kurang sensitif lagi dengan isu-isu berbau Ahokis. Perkara beliau mau berkicau layaknya burung gagak yang kurang asupan daging, atau seperti burung murai yang dibekali samurai, atau perkara beliau mau buang air besar di depan kantornya sendiri, toh sama sekali sudah tak penting bagi saya.
Jakarta tetap macet, limpahan air saat musim hujan yang tak jua bertemu muara, atau diskriminasi religius yang pelan-pelan mulai menyesakan dada, atau embarkasi antara konglomerasi dan rakyat jelata yang kian terasa, berhasil membuat saya lupa alias suka lupa bahwa Jakarta ternyata punya Gubernur juga. Hal ini berarti, sudah tak penting lagi aksi ini dan itu, manuver ini dan itu, yang dipertontonkan sang Ahok. Sudah dianggap angin lalu dan dimaklumi publik. Dimaklumi dalam pengertian yang cendrung ambigu, entah kagum, berharap, berempati, bersimpati, atau justru bosan dengan aksi dan isu yang itu-itu saja. Tak ada yang mengetahui secara pasti.
Karena dimata saya, sejatinya sudah bukan dengan cara itu lagi Ahok mengisi pundi-pundi elektabilitasnya, tapi dengan cara aplikasi kuasa yang positif untuk semua rakyat Jakarta. Jadi memang sudah tak penting lagi bicara beliau. Semua dari kita sudah paham siapa dan bagaimana karakter kepemimpinan beliau.
Secara umum, pemilih pun saya kira tak masalah dengan hal tersebut selama Jakarta baik-baik saja, jika perlu Jakarta tambah seksi dan ciamik plus berlimpah kesejahteraan. Jadi dalam perspektif ini, Ahok sudah tak penting. Jika Ahok masih terus memburu ruang publik dengan gaya yang itu-itu saja, publik Jakarta bisa saja antiklimaks. Harapan-harapan bisa saja berubah jadi sumpah serapah.
Dengan posisi Ahok yang demikian, epicentrum tentu harus diganti. Jika tetap ingin berkibar di ruang publik, Ahok-centrisme tentu harus digeser. Saya kira, pergeseran dari Ahok menuju Teman Ahok adalah salah satu alternatif yang cukup cerdik, terutama dalam rangka mempertahankan proporsi Ahok di ruang publik. Namun demikian, pergeseran aktor ruang publik tidak berarti pergeseran gaya dan cara. Nampaknya Teman Ahok memainkan kartu yang tak berbeda dengan Ahok, yakni kartu kontroversi dan kartu berani berbeda.
Ahok dan Teman Ahok
Layaknya Ahok yang jor-joran mempromosikan diri sebagai musuh koruptor dan pencoleng uang rakyat, Teman Ahok pun ambil kuda-kuda yang sama. Parpol adalah sasaran yang tak terucap tapi selalu tersenggol oleh teman Ahok. Wacana jalur independen adalah biangnya.
Wacana ini menyuluk kecurigaan deparpolisasi dan ditakutkan akan memperburuk persepsi publik terhadap partai politik. Boleh jadi maksud ideal-nya adalah untuk mempertahankan originalitas kepemimpinan politik Ahok agar tidak terlalu banyak dicederai oleh negosiasi dan lobi-lobi transaksional dengan partai yang kemudian dianggap bisa membuat sang Ahok menjauh dari visi, misi, dan gaya kepemimpin awalnya. Sehingga dengan masifikasi tingkat tinggi Teman Ahok, maka Ahok juga akan memiliki “bargaining position” sangat tinggi terhadap banyak partai yang belakangan mulai tergiur mengusung beliau pada Pilkada Jakarta 2017.
Namun Lebih dari itu, nampaknya Teman Ahok sudah bukan sekedar  komunitas pengumpul KTP dan benteng pertahanan dari rayuan partai-partai lagi, tapi juga sebagai komunitas dan mesin politik quasi-partai yang akan mengokohkan posisi politik Ahok, tidak hanya di mata partai-partai, tapi juga di mata semua konsituens dan stakeholders Pilkada Jakarta.
Hal ini berarti, meskipun labelnya "hanya" komunitas atau kumpulan para fanatic fans dan pendukung kelas satu, tapi secara politis dan fungsional, komunitas ini justru bernilai lebih dari sebuah partai lantaran akan menjadi kendaraan (jalur independen) sekaligus vote getter dan vote aglomerator. Bahkan dalam konteks tertentu, nilai jualnya jauh lebih valuable dibanding dukungan partai secara organisasional, boleh jadi karena memiliki bukti riil (nyata) atas KTP para pendukung Ahok.
Saya kira, kondisi inilah yang membuat Ahok nyaman dengan pilihan semacam ini, apalagi jumlah KTP sudah melebihi target  kebutuhan minimal. Ujungnya sudah bisa ditebak, Ahok ingin menegaskan bahwa pencalonannya adalah inisiasi sendiri yang hanya boleh diboncengi oleh kepentingan-kepentingan yang telah beliau Acc. Dengan lain perkataan, jika jalur ini akhirnya menemui titik “menjadi”, maka Ahok akan benar-benar leluasa berbuat sesuai yang beliau inginkan dan kepentingan-kepentingan yang ikut terbawa ke dalam kepemimpinannya pun adalah juga kepentingan-kepentingan yang benar-benar pure “Ahok Banget”, bukan kepentingan-kepentingan yang datang dari luar konteks itu.
Dengan demikian, siapapun calon wakil yang akan mendekat kepada beliau dipastikan tidak akan berani membawa banyak amunisi kepentingan, apalagi kepentingan partai yang menyo¬rongkanya. So pendek kata, yang diinginkan Ahok dalam pencalonan kali ini dan paska terpilih nanti (jika terpilih lagi) adalah keleluasaan, terlepas apapun “makna ekonomi politik” dibalik kata “keleluasaan” tersebut. Dan jika keleluasaan tersebut ternyata bermotivasi ingin menjadi “the only one in the town”,  ingin menerapkan ahokrasi secara utuh tanpa mempertimbangkan pihak lain, maka saya kira Ahok layak dinasehati, karena sebagaimana diingatkan Lord Action, “absolute power tends to corrupt absolutely”.
Depolarisasi dan Peran Partai Politik
Lalu apakah logika Ahok ini bisa dimaknai sebagai deparpolisasi? Apakah akan berimbas kurang baik kepada proses demokratisasi? Jika Ahok maju melalui jalur independen dan terpilih, kemudian menjalankan tugasnya sebagaimana seorang kepala daerah yang tunduk kepada undang-undang dan ketentuan-ketentuan yang ada, sejatinya tidak ada masalah. Yang agak sedikit mengganggu adalah salah satu pernyataan Ahok yang berbunyi: “Saya akan buktikan, bahwa tanpa partai pun, sebagai kepala daerah, selama didukung oleh rakyat dan bukan bertanggungjawab kepada DPRD, saya tetap bisa jalankan program untuk kesejahteraan rakyat Jakarta.”
Menurut saya, inilah sesumbar Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama yang sedikit perlu diluruskan, yakni menafikan partai dan menolak bekerja sama dengan DPRD. Legislatif lokal adalah presensi dan representasi sehari-hari dari rakyat daerah. Jika lembaga ini bermasalah, maka bukan relasi eksekutif dan legislatif daerah yang sejatinya diputus, tapi level representativeness DPRD yang harus ditingkatkan. Dengan kata lain, jika lembaga legislatif terserang dehidrasi, kekurangan cairan yang membuat mereka kurang mencair dengan kepentingan pemilih, tentu bukan lembaganya yang diberangus, tapi segera diberikan cairan secukupnya.
Jika memang pendapat Ahok didukung, maka publik sedang memberikan cek kosong alias memberi ruang dan keleluasaan yang sangat besar kepada Ahok (executive heavy). Bukankah model kekuasaan semacam ini yang kita tolak dari Orde Baru? Lalu bagaimana caranya Ahok bisa bertanggung jawab secara langsung kepada rakyat? Melalui media yang telah disortir konten-kontenya? Atau melalui transparansi penggunaan anggaran?
Bukankah hal ini wajib dilakukan pemerintah daerah, tanpa harus menghubungkannya dengan urusan legislatif daerah dan partai-partai? Menghilangkan partai dan DPRD sama saja dengan memberangus demokrasi. Saya sampai saat ini belum menemukan teori demokrasi yang sanggup menafikan kehadiran partai dan lembaga legislatif. Semoga Ahok punya referensi yang belum saya temukan tersebut.
Teman Ahok dan Aliran Dana Konglomerat
Namun lepas dari wacana deparpolisasi, kini jatahnya Teman Ahok yang terkena sentil. Kabar terbaru yang beredar, Teman Ahok diduga menerima aliran dana dalam jumlah yang cukup besar. Dana itu disebut-sebut berasal dari dana reklamasi pantai Utara Jakarta. Hal ini terungkap dari liputan (yang konon investigatif) dari salah satu majalah papan atas negeri ini. Uniknya, nara sumbernya adalah juga teman-temannya Teman Ahok, atau mungkin lebih tepatnya mantan teman-temannya Teman Ahok.
Menurut pengakuan mantan Managing Director Cyrus Network Andreas Bertoni kepada penyelidik Komisi Pemberantasan Korupsi pada 15 April 2016 lalu, Teman Ahok didesain oleh Cyrus dan Sunny Tanuwidjaja, anggota Staf Khusus Ahok. Cyrus juga menyiapkan proposal senilai Rp 30 miliar untuk membentuk Teman Ahok dan pengumpulan dukungan untuk Ahok. Namun keterangan Andreas soal proposal Rp 30 miliar dibantah Hasan Nasbi, CEO dari Cyrus Network.
Jika ditelusuri orang-perorang, sebenarnya sejumlah petinggi Teman Ahok, kelompok pendukung Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok sebagai calon perorangan di pilkada DKI 2017, ternyata bukan orang jauh Cyrus Network. Bahkan sebagian besar aktivis Teman Ahok berasal dari lembaga konsultan politik pemenangan Ahok yang dipimpin Hasan Nasbi itu. Hasan tak menampik telah menggagas dan mendanai tahap awal Teman Ahok. “Kalau itu, gue akui,” katanya seperti dikutip dari majalah Tempo, edisi 20-26 Juni 2016, dengan cover story “Duit Reklamasi untuk Teman-teman Ahok”.
Dan jika didalami seteru antara Teman Ahok dan (mantan) teman-temannya tersebut, sampai kepada cerita-cerita detail di majalah Tempo, yang saya temukan hanya perang opini dan adu narasi, lengkap dengan bumbu-bumbu emosi sisa-sisa perteman yang sudah mulai renta. Majalah tempo hanya mengangkat rangkaian cerita dari mulut ke mulut yang kebetulan menjadi materi di KPK. Jadi narasi uang miliaran rupiah yang berputar-putar di antara Teman Ahok dan (Mantan) Teman-temannya tersebut adalah narasi emosi bertajuk cinta dan benci. Kedua belah pihak berlagak seperti dua orang yang saling menggunjingkan mantan, mencari borok-borok masa lalu, dan saling melemparkannya ke muka masing-masing.
Saya cukup yakin, jika narasi ini berdasarkan fakta yang sahih, maka salah satu pihak sudah digondol KPK dan dipakaikan "almamater oranye". Jika memang tuduhan benar adanya, saya juga yakin Teman Ahok tidak bermain gegabah dalam menerima pasokan uang, setidaknya akan sangat sulit untuk melacak penyerahan dan berbagai transaksinya. Dan jika Teman Ahok ternyata tidak menerima, maka mantan-mantan temannya juga tidak akan gegabah menyerang tanpa bantalan yang kuat karena dipastikan hal semacam itu akan menjadi hal konyol yang dilakukan mantan, secara sudah sangat mengenal apa, siapa, dan bagaimana pihak yang mereka senggol. Toh akhirnya hanya berlabuh pada narasi masing-masing, bahkan saya perhatikan, beberapa wartawan Tempo juga berusaha menguatkan argumennya dengan membangun narasi tambahan, terutama melalui sosial media, bahwa pihak Hasan Nasbi sedang melakukan aksi pembunuhan karakter terhadap (mantan) temannya.
Tapi lagi-lagi pembelaan sosial media dari kawan-kawan wartawan juga tak jauh beringsut dari narasi semata, yang ujungnya hanya berupa pembelaan terhadap hasil yang diaku investigasi pada terbitan sehari sebelumnya. Tak ada fakta-fakta valid yang bisa dijadikan KPK sebagai dua alat bukti permulaan yang cukup.
Nampaknya, bagi para pihak, ini hanya pesta narasi, tak jauh berbeda dengan Panama Paper, yang kemudian hilang entah kemana. Entah pengusaha mana yang ditangkap di negeri ini atas Panama Papers tersebut, belum jelas sampai hari ini. 
Bagi saya sendiri, narasi-narasi semacam itu adalah pepesan kosong menuju angka satu. Jika tak mampu jadi angka satu, maka akan tetap kosong dan tak akan jadi sesuatu. Tentu saya sangat menyayangkan jika tokoh sekaliber Ahok dibesarkan dengan angka kosong yang tak pernah menjadi angka satu, pastinya sangat disayangkan.
Sekian dari saya, yang bukan teman siapa-siapa di antara mereka.
Ronny P Sasmita
Analis Ekonomi Politik Financeroll Indonesia
Sumber : selasar.com

G+

APA KOMENTAR ANDA?
BERITA MENARIK
loading...
BERITA TERBARU
    Loading...